Peniron, hanyalah sebuah desa kecil di 10 km utara kota Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Terletak di sebelah barat lembah Luk Ulo, sebuah sungai terbesar di Kebumen yang membelah Kebumen menjadi dua daerah dengan kebudayaan sedikit berbeda satu dengan lainnya, yang sering orang katakan sebagai daerah wetan kali dan kulon kali. Sebagai desa, Peniron tidak ada yang istimewa dan mungkin nyaris sama seperti desa-desa lain yang jauh dari kota.

Untuk lebih mengenal Peniron, kami membagi artikel tentang Peniron dari beberapa aspek, dan karena tulisan ini bersifat rintisan, maka sangat terbuka bagi teman-teman untuk menambahkan referensi dan melengkapi artikel ini. Tentu harus didukung bukti sahih dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Peniron dalam sejarah :

Menyebut sejarah, adalah mengungkap sebuah fakta masa lampau. Jadi, masa lampau bisa dikatakan sebagai sejarah jika disertai bukti sejarah. Jika tidak, maka masa lampau itu baru berupa sebuah cerita sejarah yang mungkin hanya fakta sejarah lesan yang turun temurun.

Begitupun dengan sejarah Peniron, kendati kami dan masyarakat Peniron meyakini sejarah Peniron adalah sebuah fakta, tetapi karena tanpa dilengkapi sebuah peninggalan sejarah yang bisa membuktikan cerita sejarah Peniron, maka kami tak akan memaksa siapapun untuk mempercayainya seperti yang kami yakini.

Kondisi ini saya yakin tidak hanya terjadi di desa Peniron, tetapi mungkin hampir setiap desa menyimpan sejarah masing-masing. Mempunyai cerita turun-temurun tentang sejarah desanya, walaupun kurang didukung oleh bukti-bukti peninggalan sejarah dan tak terdokumentasi dengan baik sebagai dokumen sejarah. Sebagian dari kita memang tak terlalu peduli dengan sejarah.

Sebagian dari kita bahkan menganggap dengan mengagungkan sejarah, kita hanya membuai diri dengan cerita heroik masa lalu dan akan melenakan kita akan keharusan membangun dan mempersiapkan masa depan. Karena pemikiran di atas itulah, kita sekarang menjadi bangsa yang tak punya jati diri, menjadi bangsa yang labil dan mudah dipermainkan perubahan jaman.
Maka, jika kita ingin menjadi bangsa yang besar mari kita belajar pada sejarah. Dengan sejarah kita menjadi mengenal siapa kita, menjadi tahu dan belajar/minimal bisa membayangkan bagaimana perjuangan generasi sebelum kita.

Peniron masa lampau adalah sebuah belantara dilembah Luk Ulo. Konon yang membuka hutan dan menjadikan daerah pemukiman adalah seorang ulama/kesatria bernama Eyang Rohmanudin alias Mbah Kuwu. Sampai akhir hayatnya Eyang Rohmanudin tidak mempunyai keturunan dan jasadnya dimakamkan di Pemakaman Istana Gede, di dukuh Krajan Peniron.

Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian.
Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.

Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, Eyang Drapaita alias Mbah Pancur yang menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering, dimakamkam di Istana Gede.
Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api, dan masih banyak lagi.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.
Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.

Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.

Pemimpin Peniron yang kedua adalah Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jendral yang dulu pernah memimpin IPSI.

Pemimpin ketiga adalah Eyang Tirtawijaya, dimakamkan di pemakaman Bulugantung.

Pemimpin keempat adalah Eyang Ketiwijaya/Kusen dimakamkan di Bulugantung.

Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah Desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984. Beliau dimakam di Istana Gede.

Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 – 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.

Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, yang masih memerlukan banyak penyempurnaan, maka siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.

Mudah-mudahan walaupun belum lengkap, sejarah tentang Peniron akan menjadikan warga Peniron dan siapapun keturunan orang Peniron lebih mempunyai jatidiri dan mejadi generasi tangguh memperjuangkan masa depan. Dan harapannya lagi, muncul kebanggaan dan kepedulian meneruskan cita-cita pendahulu, yang telah berjuang pada jamannya demi kita dan anak cucu kita.

Peniron dari aspek Sosial, Budaya dan Politik:

Sebagai daerah pedesaan, desa Peniron adalah desa yang aman, tentram, damai. Masyarakat hidup berdampingan dengan masih sangat tinggi memegang nilai-nilai dan norma sosial yang dianutnya. Hubungan kemasyarakatan yang masih sangat kuat di Peniron menjadikan seluruh masyarakat saling mengenal satu-sama lain walaupun jumlahnya mencapai 1500 Kepala Keluarga dengan luas wilayah 951 Ha.

Hampir 90% penduduknya bekerja sebagai petani, dengan 80% dari itu adalah petani marginal karena keterbatasan lahan yang dimiliki. Selebihnya dari yang berprofesi sebagai petani adalah PNS/Wirausaha/TNI/Polri.

Walaupun penduduk Peniron 100% beragama Islam, tidak semua daerah merupakan warga muslim yang sangat taat, bahkan hampir 40% bisa dikatakan sebagai kaum abangan. Toh begitu tak pernah ada gejolak apapun di sana karena semua saling menghormati dan saling menjaga perasaan masing-masing.

Dalam hal pendidikan, 90% anak usia sekolah telah menamatkan pendidikan dasar 9 tahun/setingkat SLTP, apalagi didukung dengan fasilitas pendidikan yang memadai untuk pendidikan dasar. Di Desa Peniron ada 2 buah TK, 3 buah SD Negeri, 1 buah MI Swasta dan 1 buah SMP Negeri. Keterbatasan lembaga pendidikan setingkat SLTP di Peniron teratasi karena adanya MTs Swasta di desa tetangga, yaitu 1 MTs di desa Karangreja kec. Karanggayam dan 1 buah MTs di desa Jemur Pejagoan yang jaraknya lumayan dekat.

Untuk pendidikan menengah atas, hampir 50% lulusan SMP meneruskan pendidikan setingkat SLTA di kota dan hanya sekitar 10% dari lulusan SLTA yang meneruskan ke perguruan tinggi. Kondisi sekarang yang segalanya serba mahal sangat menjadi kendala bagi warga Peniron untuk menyekolahkan anaknya apalagi sampai ke perguruan tinggi.

Dalam hal kebudayaan, sebagaimana disebutkan di atas, sebagai desa di wilayah kulon kali (barat sungai Luk Ulo), maka kebudayaan masyarakatnya sangat dipengaruhi budaya Jawa Banyumasan. Baik dari segi bahasa/dialek, kesenian dan budaya adat lainnya. Jadi tak heran jika di Peniron ada 3 buah group kesenian ebleg/kuda lumping, 2 buah group lengger, mentiet, dangsak, dan lainnya. Disamping budaya banyumasan, Peniron dikenal sebagai gudangnya group kesenian Janeng, sebuah seni shalawat tradisional Islam.

Dalam hal politik, Peniron lebih terbagi pada 2 kekuatan ideologi, yaitu Islam dan Nasionalis. Hal ini tidak mengherankan karena di samping berimbangnya kaum agamis dan abangan, Peniron juga punya sejarah masa lalu yang menggambarkan dominannya kedua kekuatan yang pada masanya diwakili oleh Partai NU dan PNI.

Bahkan ketika terjadi perselisihan antara AOI (Angkatan Oemat Islam) dan Republik Indonesia tahun 1949 – 1952, desa Peniron menjadi salah satu basis kekuatan AOI sehingga sampai terjadi pertumpahan darah. Tercatat 2 orang terbunuh oleh AOI dan beberapa rumah yang ditengarai sebagai lumbung logistik AOI dibakar oleh tentara Indonesia.

Pada masa Orde Baru, karena kuatnya massa “hijau”, Peniron adalah tambang emas bagi PPP sehingga selalu mampu mengimbangi bahkan sempat mengungguli perolehan suara Golkar pada ajang PEMILU.

Kini, dimasa reformasi ketika begitu banyak partai berbasis warga NU, massa islam di Penironpun terpecah, terutama dalam dua kakuatan besar PKB dan PPP. Karena terpecahnya massa hijau, sejak Pemilu di masa reformasi di gelar, PKB dan PPP belum mampu mengungguli suara PDI Perjuangan sebagai pengumpul suara terbanyak.

Peniron dalam aspek Demografi dan Geografis :

Secara Geografis, Peniron terletak di 70400 – 70410 Lintang Selatan dan 1090400 – 1090410 Bujur Timur.

Batas utara adalah Desa Logandu dan Kebakalan (Kecamatan Karanggayam), batas timur Desa Karangreja Kecamatan Karanggayam, Desa Kedungwaru, Seling dan Widoro (Kecamatan Karangsambung), batas selatan Desa Kebagoran Kecamatan Pejagoan, dan batas barat adalah Desa Watulawang dan Pengaringan (Kecamatan Pejagoan).

Luas Wilayah 951 Ha atau 9.510 Km2.

Desa Peniron terdiri dari dataran rendah di sekitar lembah Luk Ulo dan sebagian lagi bergunung-gunung. Puncak tertinggi di Peniron adalah gunung Brujul yang berbatasan dengan desa Kebakalan.

Pada tahun 2007, jumlah penduduk Peniron adalah 7.636 jiwa dengan 1456 KK. Jumlah itu belum termasuk yang sudah menetap di luar daerah karena mempunyai pekerjaan tetap di luar Peniron. Sebagian besar dari penduduk yang menetap adalah usia non produktif, sedangkan usia produktif sebagian besar didominasi oleh usia sekolah dan pasca sekolah karena belum bekerja atau dalam rangka mencari kerja. ***bersambung**

Iklan