Ketika tadi pagi saya membaca artikel terbaru tentang resahnya warga desa Seling di situs Pemkab Kebumen, alangkah resahnya saya. Keresahan ini saya yakini juga akan dirasakan oleh banyak warga Peniron jika mereka juga membaca tulisan di situsnya Pemda Kebumen itu. Keresahan yang jauh lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah warga desa Seling yang resah karena pemukimannya terancam oleh erosi kali Luk Ulo.

Bagi warga Peniron, yang hidup dengan mengandalkan penghidupan dari sepetak sawah, tetapi sudah bertahun-tahun tanah kami yang berpuluh-puluh hektar terkena erosi. Dan karena erosi, sekarang posisi tanah itu menjadi wilayah desa Seling, maka warga Seling mendapatkan dan menggarap tanah yang itu dengan gratis.
Sementara kami setiap tahun selalu dikenai kewajiban pajak bumi oleh negara atas tanah itu. Entah sudah berapa ratus ribu pajak yang kami bayar tanpa kami menggarap tanah itu, dan bahkan entah berapa juta desa kami harus terus nomboki PBB dari tanah yang telah berubah menjadi lahan hidup warga Seling itu.
Semua kami lakukan karena kami selalu berharap, ada masanya kami mendapatkan keadilan dengan mendapatkan apa yang semestinya menjadi hak kami.

Erosi Luk Ulo memang telah membuat hubungan kami dan sebagian warga Seling menjadi sering bersitegang. Tanah telah menjadikan sebagian warga desa yang santun menjadi tamak dan serakah. Tanah gratis telah menjadikan sebagian warga Seling, yang sebenarnya masih saudara menjadi seperti kehilangan hati nurani.

Bahkan karena ketidakberdayaan, kebingungan atau mungkin bahkan kebodohan, sekitar tahun 2001 karena persoalan lain, kemarahan warga Peniron diluapkan dengan merusak lahan-lahan di Seling yang sebenarnya lebih adil menjadi miliknya.

Toh Pemerintah tidak pernah mau tahu, walaupun berkali-kali kami berteriak dan memberi sinyal adanya ketidakadilan.

Yang mengagetkan kami, awal Mei yang lalu diadakan sosialisasi dari Satker Non Vertikal Tertentu Pro Bo Lo, bahwa seluruh tanah yang dianggap sebagai endapan adalah milik dinas Pengairan. Bagaimana jika seluruh tanah kami hilang terkena erosi?
Akankah kami menjadi lebih miskin karena kehilangan ladang pangan kami? Bagaimana jika seluruh Peniron beralih ke seberang sungai? Akankah desa Peniron tinggal sejarah? Dengan itu, bukankah secara normatif kami telah dirampas haknya oleh negara? Lantas apa gunanya dibuat aturan negara jika tidak menciptakan keadilan?

Tetapi insyaAlloh, jika itu aturan negara, kami akan patuhi. Tetapi tuntutan keadilan akan selalu kami perjuangkan. Entah apapun resikonya, kami akan kibarkan perlawanan jikalau kami selalu terdzolimi.

Hari Senin yang lalu, telah diadakan pertemuan antara Kepala Desa Seling dan Peniron di Kantor Satpol PP. Menurut Bapak Triyono Adi Kades Peniron, kades Seling juga satu paham untuk menyelesaikan permasalahan tanah ini dengan kekeluargaan. Opsi yang akan dilakukan adalah : 1. Diadakan pertemuan antara Peniron dan Seling untuk mencari solusi terbaik. 2. Solusi terbaik adalah : a. Membuat sudetan sesuai batas desa asli dan mengembalikan sungai pada posisi semula, atau b. menetapkan batas desa tanpa sudetan sesuai batas asli terdahulu, sehingga dimanapun tanah itu, penggarap yang sah menjadi proiritas.

Lantas, apa hubungan keresahan kami dengan artikel di situs Kebumen? Jawabannya, setiap kami mendengar apapun mengenai tanah kami yang sekarang digarap warga Seling, kami selalu resah. Akankah tanah kami yang sudah berpuluh tahun hilang akhirnya terampas?

Jika warga Seling resah karena rumah mereka terancam erosi, tidakkah mereka juga merasakan resahnya perasaan kami, yang berpuluh-puluh tanahnya mereka nikmati dengan cuma-cuma?

Kami memang selalu mengusahakan agar ada jalan damai untuk menyelesaikan masalah ini dengan desa Seling. Demi hak kami dan warga Peniron, kami berusaha mendapatkan tanah itu kembali dengan cara elegan, tidak dengan cara yang dibenci Tuhan.
Mudah-mudahan warga Seling bisa menerima tawaran kami dengan nurani. Jika jalan damai tak mendapat respon baik dari warga Seling, mudah-mudahan pemerintah bisa memposisikan diri sebagai mediator dan pengadil.

Mudah-mudahan ada tambahan kesabaran dan kekuatan untuk kami memperjuangkan hak warga kami yang terampas. Jikapun akhirnya ikhtiar damai kami gagal, mungkin dengan amat terpaksa kami menyerahkan opsi lain kepada masyarakat.
Mudah-mudahan pihak terkait tidak menutup mata dan nurani terhadap persoalan ini, karena menjadi tanggung jawab negara jika rakyat emosional karena rasa keadilannya terampas dan terkoyak.
Bukankah pepatah mengatakan ”cacingpun akan menggeliat jika terinjak?”

Kepada seluruh masyarakat Peniron, jangan hanya menjadi penonton… Karena Andalah subyek yang sebenar-benarnya.

….Mudah-mudahan besok situs Kebumen akan gantian mengangkat keresahan kami…