Sejarah Peniron

Menyebut sejarah, adalah mengungkap sebuah fakta masa lampau. Jadi, masa lampau bisa dikatakan sebagai sejarah jika disertai bukti sejarah. Jika tidak, maka masa lampau itu baru berupa sebuah cerita sejarah yang mungkin hanya fakta sejarah lesan yang turun temurun.

Begitupun dengan sejarah Peniron, kendati kami dan masyarakat Peniron meyakini sejarah Peniron adalah sebuah fakta, tetapi karena tanpa dilengkapi sebuah peninggalan sejarah yang bisa membuktikan cerita sejarah Peniron, maka kami tak akan memaksa siapapun untuk mempercayainya seperti yang kami yakini.

Kondisi ini saya yakin tidak hanya terjadi di desa Peniron, tetapi mungkin hampir setiap desa menyimpan sejarah masing-masing. Mempunyai cerita turun-temurun tentang sejarah desanya, walaupun kurang didukung oleh bukti-bukti peninggalan sejarah dan tak terdokumentasi dengan baik sebagai dokumen sejarah. Sebagian dari kita memang tak terlalu peduli dengan sejarah.

Sebagian dari kita bahkan menganggap dengan mengagungkan sejarah, kita hanya membuai diri dengan cerita heroik masa lalu dan akan melenakan kita akan keharusan membangun dan mempersiapkan masa depan. Karena pemikiran di atas itulah, kita sekarang menjadi bangsa yang tak punya jati diri, menjadi bangsa yang labil dan mudah dipermainkan perubahan jaman.

Maka, jika kita ingin menjadi bangsa yang besar mari kita belajar pada sejarah. Dengan sejarah kita menjadi mengenal siapa kita, menjadi tahu dan belajar/minimal bisa membayangkan bagaimana perjuangan generasi sebelum kita.

Peniron masa lampau adalah sebuah belantara dilembah Luk Ulo. Konon yang membuka hutan dan menjadikan daerah pemukiman adalah seorang ulama / kesatria bernama Eyang Rohmanudin alias Mbah Kuwu. Sayangnya, sampai akhir hayatnya Eyang Rohmanudin tidak mempunyai keturunan. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Istana Gede, di dukuh Krajan Peniron. Di pemakaman umum ini, banyak dimakamkan tokoh-tokoh pendahulu Peniron seperti Eyang Rohmanudin, Mbah Kalipancur, Mbah Udadiwangsa dan Mbah Samikarya.

Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian. Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.

Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, serta Eyang Drapaita alias Mbah Kalipancur yang dengan menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering. Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya atau Eyang Astaguna atau Mbah Watupecah, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untuk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.

Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.

Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.

Selanjutnya, Peniron dipimpin oleh Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jenderal yang dulu pernah memimpin IPSI. Atas kepedulian Edi Nalapraya, komplek pemakaman trah Ranareja kini telah dibangun dengan bagus dan rapi.

Setelah Ki Ranareja, pemimpin ketiga Peniron adalah Eyang Tirtawijaya yang tinggal di Bulugantung. Rumah tinggalnya dulu kini ditempati oleh keluarga Bapak Suroso Titodwiatmojo yang merupakan keturunan ketiga. Eyang Tirtawijaya dimakamkan di pemakaman Bulugantung.

Setelah Eyang Tirtawijaya, kepemimpinan Peniron diteruskan oleh putra beliau yaitu Eyang Ketiwijaya/Kusen yang juga ayah dari Bapak Suroso. Makam Eyang Ketiwijaya ada di Bulugantung.

Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984.

Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 โ€“ 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.

Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan sehingga yang masih memerlukan banyak penyempurnaan. Siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini karena diharapkan akan menjadi sebuah cerita sejarah yang lengkap, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.

Mudah-mudahan walaupun belum lengkap, sejarah tentang Peniron akan menjadikan warga Peniron dan siapapun keturunan orang Peniron mempunyai sedikit gambaran tentang sejarah desanya. Dengan memahami sejarah, orang Peniron dan keturunannya akan lebih mempunyai jatidiri dan mejadi generasi tangguh memperjuangkan masa depan.

Dan harapannya lagi, muncul kebanggaan dan kepedulian meneruskan cita-cita pendahulu yang telah berjuang pada jamannya demi kita dan anak cucu kita

14 Komentar (+add yours?)

  1. Gareng Cilik
    Nov 10, 2008 @ 16:26:32

    Nyong mawiti komentar kiye yahh.๐Ÿ˜€ ngapurane kang, mbene niliki kiye..
    kue mau be anu weruh nang forum, nek ora tilik forum, kayane ora ngerti wis, rika gawe umah maning๐Ÿ™‚
    Penataan wis apik, tinggal isine bae di kumpliti kang,๐Ÿ™‚
    Pokoke Kang Suhar is the best lah..

  2. NAUFAL
    Nov 11, 2008 @ 07:19:15

    Matur nuwun kang Gareng wis tilik gubug anyarku. Pancen umah kiye sengaja esih mandan tek umpetna ben aku bisa tata2.
    Tapi aku ora niat boyongan Kang.

    Kiye wingi anu nggo pengungsian soal arep tata2 umah lawas dalane ditutup, ora bisa mlebu. Akhire iseng nerusna nang kene wong wis tek pondasi sue banget. Umah kiye niate mandan2 karo tek isi koleksi pribadi kaya kue.

    Kiye be niate arep merguru karo rika lan kang Naryo. Men mandan patut wong aku anu ora pinter gawe umah Kang. Modal nekat!๐Ÿ˜€

  3. Wasim Pengaringan
    Nov 23, 2008 @ 08:42:27

    wah nek sejarah peniron di gawe film apik banget kuwe…bisa ngalahna makalampir laqn sinetron2 indonesia sing ra mendidik babar blas…GOO LUCK PENIRON…

  4. Naufal
    Nov 23, 2008 @ 09:28:28

    Haha..rika produser e apa Kang? Rika lha ana ana bae wis.:-D

    Tulisan kue be isih nunggu penyempurnaan. Mung urung ana wektu nggo ngedit nambah2.
    Kudune ana sing ngrewangi kiye..

  5. Gareng Cilik
    Nov 24, 2008 @ 08:23:10

    ๐Ÿ˜€

  6. rio
    Nov 24, 2008 @ 11:17:41

    enyong lair nganti gede ya nang peniron, ning sejarahe peniron ora patia paham.

  7. budi
    Des 02, 2008 @ 19:24:28

    Kang Nyong Kencot ana panganan apa dah…..

  8. Naufal
    Des 03, 2008 @ 11:14:06

    @Kang Rio, inyong bae ora patia paham koh soale nang Peniron ora ana narasumber sing menguasai temenan. Tulisan mau mung sebagai gambaran sejarahe Peniron, detaile mesti digodog temenan.

    @Kang Budi, kencot ya? Pada bae!.. hehe

  9. S Gayodh K
    Mar 20, 2010 @ 07:57:51

    Aku mbe iseng mbukak… bareng di waca jebule ya maen…. ya maturnuwun lan salut nggo sing gawe tulisan kae nduwur mau… batir2 gole komentar taun 2008. aku mbe maca siki taun 2010. jan aq ketinggalan bener. nek di gawe film aku sing dadi bintange ya dadi EYANG RAGIL BAE LAH YA… hhhhhhhh

  10. Suhar
    Mar 22, 2010 @ 00:41:25

    Nek digawe film, judule Perawan Lembah Lukulo.. Sesuai karo selera wong Indonesia.. hehe

  11. Muzt
    Mar 30, 2010 @ 12:40:05

    nek judule Perawan Lembah Lukulo inyong tek dadi bujange bae, soale esih thing2 hehehe

  12. Suhar
    Apr 01, 2010 @ 01:02:46

    Nek kaya kue ya mending “Bujang Perenggut Keperawanan” :))

  13. gendoet
    Apr 09, 2010 @ 16:43:55

    lah deneng sue kaya kue pak…..medeni temen…nek prawane ra gelem seh kpy hee ee

  14. Purnomopetex
    Sep 25, 2010 @ 22:15:16

    Fto2 kerajan sing lengkapy,ben dalan sing elek isa dajoke mang bu.pati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: