Jalan kabupaten jalur Karangpoh – Peniron – Kebakalan – Wonotirto – Batas Banjarnegara yang ada di desa Peniron mulai dari SMP N 2 Pejagoan sampai Balai Desa kondisinya semakin memprihatinkan. Kondisi jalan sepanjang 800 meter itu lebih mirip sawah karena penuh dengan kubangan dan lumpur. Apalagi dimusim penghujan seperti sekarang, pengendara motor perlu berhati-hati karena banyak kubangan air bercampur lumpur yang membuat warna motor seperti traktor.


Padahal, jalan itu adalah jalan kabupaten yang dilalui angkutan umum 2 trayek, ke Watulawang dan ke Wonotirto Karanggayam dan menjadi jalan utama desa-desa disebelah barat sungai Luk Ulo sehingga setiap hari ramai dengan lalu lalang kendaraan. Jalan ini juga menjadi jalur proyek jalan tembus Kebumen – Banjar.
Yang menyesakkan, SUDAH PULUHAN TAHUN jalan itu TIDAK PERNAH DIPERBAIKI dengan pengaspalan ulang kecuali hanya diurug pasir. Perbaikan jalan Tembono – Peniron dari dulu hanya berhenti sampai desa Jemur dan Kebagoran. Sementara jalan di Peniron yang baru tahun ini diperbaiki, pun tidak diperbaiki semua.



Sejak awal tahun 2007, ketika Pemkab menganggarkan untuk peningkatan jalan Tembono – Peniron dalam beberapa tahap, masyarakat Peniron ke utara selalu berharap akan menikmati jalan yang bagus seperti daerah-daerah lain. Tetapi sampai Tahap III di pertengahan tahun 2008, ternyata pekerjaan peningkatan jalan hanya sampai dekat SMPN 2 Pejagoan. Sisanya sepanjang 800 meter dibiarkan rusak.


Warga hanya bisa bertanya, ada apa ini? Bagaimana bisa perbaikan dan peningkatan jalan dari dulu seperti tidak pernah memihak warga Peniron? Bagaimana bisa, jalan yang tinggal 800 meter itu tidak masuk dalam perencanaan sebelumnya, padahal kerusakannya sudah parah bertahun-tahun? Lantas, kapan jalan rusak itu akan dibangun? Dan jika sekarang dibangunpun, jalan yang dibangun pada tahap-tahap kemarin sudah rusak, lantas kapan warga Peniron dan sekitarnya akan menikmati jalan bagus?


Bupati, Kepala Dinas, Camat dan Kades harusnya malu pada rakyatnya. Mudah-mudahan walaupun terlambat, ada perhatian dari pihak terkait. Atau karena menjelang Pemilu mudah-mudahan ada angin kepentingan politik bertiup ke utara.
Jika ternyata tidak juga perubahan, semoga masyarakat Peniron sadar, bahwa pilihan pada Pemilu seharusnya digunakan dengan cerdas agar punya nilai tawar di mata politisi dan pembuat kebijakan.


Atau kalau tidak, perlukah warga melakukan aksi simpatik dengan mencangkuli dan menanami jalanan yang lebih pantas sebagai sawah itu?