Kaos Unik Wong Bumen

22 Komentar

kaos-wong-bumenGambar di samping adalah gambar pada kaos bagian belakang. Secara tak sengaja saya menemukannya saat nonton pertunjukan kuda lumping di desa Peniron. Yang pakai juga anak Peniron tetapi setahu saya dia jarang di rumah karena bekerja di Jakarta/Bandung. Walaupun saya tidak tahu namanya –dan tak sempat berkenalan– tapi saya tahu dia anak dukuh Bak.

Kaos itu menarik perhatian saya karena unik memodifikasi sebuah logo dari perusahaan internasional menjadi logo identitas bertuliskan Wong Bumen. Di samping itu, kreatifitas pada kaos mengingatkan saya pada blog bikinan Kang Tajib yang dulu pernah moncer.

Saya juga iseng mengirim pesan lewat email yang tertera pada kaos itu tapi belum ada jawaban sampai sekarang. Adakah komunitas Wong Bumen seperti terbaca dalam kaos itu, ataukah itu hanya buah  kreativitas produsen kaos? Lagi

Ketika George Walker Bush dilempar sepatu

18 Komentar

Bush dilempar sepatuSebuah berita hangat hari ini. George Walker Bush, presiden Amerika itu dilempar sepatu oleh seorang wartawan warga Iraq ketika sedang menyampaikan pidato pada saat berkunjung ke Iraq dalam rangka perpisahan akhir jabatannya. Peristiwa ini bisa jadi mengagetkan, bisa menggelikan, bisa memalukan, bisa juga menyenangkan, tapi bisa jadi juga mengecewakan.

Lagi

Blogger Kebumen Bersatulah!

28 Komentar

Tulisan ini sebenarnya saya posting tanggal 10 Desember, tetapi karena tidak ingin beberapa tulisan terbit bersamaan, jadinya saya pending dan saya terbitkan sekarang. Kebetulan, karena ada ajakan kumpul blogger dari Kang Tajib, maka tulisan ini sekaligus sebagai jawaban dan pendapat saya terhadap ajakan kumpul tersebut.

Judulnya seperti slogan kelompok penggemar Bang Iwan Fals, Orang Indonesia (OI). Kebetulan saya juga penyuka berat lagu-lagu bang Iwan dari sebelum tahun 1990an. Menyebut Blogger Kebumen, bukan karena saya narcis, gede rasa atau bahkan tidak tahu diri, karena saya sendiri menyadari belum pantas menyandang sebutan itu.

Lagi

Ada Yang Beda Di Hari Raya Qurban

13 Komentar

Senin 10 Dzulhijjah 1429 H atau 8 Desember 2008, umat Islam merayakan hari Raya Idul Adha atau juga dikenal dengan hari Raya Qurban. Disaat yang sama, para tamu Alloh yang sedang beribadah haji menunaikan wukuf di Arafah. Qurban dalam bahasa Arab berarti “dekat”,  sedangkan arti ibadah qurban adalah menyembelih hewan sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban

Lagi

LODEH KLEWEK DAN SHOLAT IED

9 Komentar

Lodeh/sayur klewek, mungkin cuma ada di Peniron dan sekitarnya, terutama yang mempunyai tradisi sama dengan Peniron. Bahkan di Peniron sendiri mungkin juga tidak semua daerah menggunakan lodeh klewek sebagai menu wajib. Bahkan menu ini bukan hanya saat lebaran, tetapi menjadi menu wajib pada acara lain seperti muludan, rajaban, likuran dan suran.

Klewek adalah buah yang dihasilkan dari pohon pucung. Orang luar Peniron khususnya Kebumen menyebutnya begitu. Bentuk buahnya mirip kerang kecil berwarna hitam. Saya berharap ada yang mau memberikan referensi mengenai klewek karena akses saya dari kampung sangat terbatas untuk membuka-buka winkipedia atau sejenisnya.

Lodeh adalah istilah untuk menyebut sayur secara umum di Peniron. Menyebut lodeh klewek, makanan ini seperti sayur biasa mirip seperti sayur kikil, bahkan mungkin persis tetapi ditambah buah klewek sehingga menjadi kehitaman. Bagi yang belum terbiasa, mungkin sedikit asing, tetapi kalau sudah biasa seperti saya, lodeh klewek menjadi menu yang paling dinanti saat acara badan.

Sebagian, mungkin sudah meniru tradisi kota dengan ketupat dan opornya. Tetapi wong Peniron seperti saya tetap merasa kurang jika belum menyantap lodeh klewek dan goreng ayam kampung. hehe

Sholat Ied

Sholat Ied terutama saat Idul Fitri menjadi momen yang sangat ditunggu karena saat itulah kita bisa ketemu dengan hampir semua orang, laki – perempuan, tua – muda dan ditambah saudara-saudara perantauan. Suasana seperti ini hanya bisa dijumpai saat lebaran.

Yang lebih asyik, setelah sholat Ied diteruskan dengan bersalam-salaman dan karena banyaknya bisa makan waktu cukup lama. Sayangnya, sholat Ied di Peniron tidak dilakukan di satu tempat, tetapi di 4 tempat sehingga tidak bisa bersalaman dari semua penjuru Peniron. Di kota, bersalam-salaman setelah sholat Id mungkin tak lagi ada. Contohnya di daerah mertua saya.

Kangen, tentu subyektip karena berhubungan dengan rasa. Dan, lodeh klewek serta sholat Id adalah salah satu yang saya kangeni di moment lebaran. Teman-teman pasti juga punya hal ngangeni dari kampung yang tak didapatkan di kota. Maka, mudiklah lagi minimal jika lebaran tiba tahun depan.

DANGSAK, KESENIAN KHAS DARI GUNUNG

19 Komentar

Dangsak “In Action”

Nama Dangsak barangkali hanya dikenal oleh masyarakat Peniron dan sekitarnya. Sebagai sebutan untuk seni tradisional yang memang langka, Dangsak memang tidak populer walaupun didaerah Peniron dan Watulawang seni ini cukup digemari.

Seni Dangsak hanya ada di Peniron dan Watulawang. Di daerah lain seperti Karanggayam, seni ini mungkin ada walaupun dengan sebutan lain. Di daerah Watulawang, daerah muasal seni Dangsak, seni ini lebih sering disebut “Cepet Rolas” (Topeng 12). Populasi seni ini juga tidak menyebar luas, sehingga seni ini bisa dibilang sebuah seni tradisional yang khas dan langka.

sebagai seni hiburan, dangsak jarang dimainkan sebagai hiburan hajatan layaknya wayang kulit, janeng, lengger, kuda lumping dan yang lainnya. Dangsak lebih sering dimainkan karena ditanggap oleh komunitas, paguyuban seperti pada acara peringatan HUT RI, halal-bihalal lebaran atau acara khusus lainnya.

Dangsak saat mengikuti karnaval HUT RIke 63 di Kebumen


Kelompok seni Dangsak di Peniron hanya ada 1 grup, yaitu di Dusun Perkutukan yang berdiri pada tahun 1992. Sebelum itu, dangsak adalah seni khas dari dusun Kebayeman di desa Watulawang yang sudah ada berpuluh-puluh tahun lamanya.

Lantas apa yang khas dari seni Dangsak?

Yang pertama, Dangsak tidak ada didaerah lain di Kebumen. Disamping Peniron dan Watulawang, kemungkinan besar hanya ada didaerah Karanggayam yang secara kultur memang sama dengan Watulawang dan sebagian Peniron.

Kedua: topeng raksasa dan kostum penarinya. Topeng raksasa dengan kombinasi kostum penari yang serba hitam menjadikan seni ini membuat takut sebagian orang terutama anak-anak.

Yang ketiga adalah seni tarinya. Sebuah kelompok tarian yang terdiri dari 8-12 penari pria. Tarian dangsak sebagian hampir mirip dengan tari kuda lumping, tetapi lebih kental unsur “liar”nya. Termasuk cara “trance” atau kesurupan dalam seni dangsak juga mirip kuda lumping, hanya “ugal-ugalan”. Konon tari dangsak atau cepet rolas memang menceritakan dan menggambarkan perilaku raksasa dari hutan.

Yang keempat adalah alat musiknya. Dulu, dangsak hanya bermodal 2 buah kentongan dan sebuah kaleng bekas sebagai alat musik, terutama jika sedang melakukan pawai. Tetapi untuk tarian, dangsak menggunakan perangkat gamelan mini.

Dangsak memang khas, sayang seni ini sepertinya tidak terkelola dengan baik dan profesional. Hal ini terlihat dari kostum dan asesoris penari yang kurang menunjukkan tampilan dengan sentuhan seni.
Demikian pula dalam hal gerakan penari yang perlu keterpaduan gerakan maupun koreografi.

Saya sendiri kurang bahkan tidak mengerti tentang seni, tetapi jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin dangsak bisa lebih populer. Dari bincang-bincang dengan Kang Memed selaku dedengkot Dangsak, upaya kearah itu sudah mulai dilakukan. Disamping sepatu model “Jaka Sembung”, konon model topeng raksasa juga akan diperbaharui. Bahkan, koreografer akan didatangkan jika sudah ketemu dengan orang yang mampu dan mau dibayar murah. hehe

Tidak hanya kita, pemerintahpun sebenarnya punya kewajiban untuk menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang dan hanya menjadi cerita. Tetapi selama ini kita tidak tahu apa kerja dari dua dinas berbeda yang membidangi seni dan kebudayaan itu.

Ataukah budaya kita harus dilacurkan dulu ke negara tetangga agar mendapat perhatian karena efek dari kebakaran jenggot?
Jangan!

YANG UNIK DI RAJABAN

7 Komentar

Dokumentasi dari peringatan Isro Mi’roj 1429 H desa Peniron berikut menggambarkan, betapa antusiasnya masyarakat Peniron mendukung PHBI. Jikapun bagi Anda mungkin biasa, minimal itu luar biasa menurut kami.

Luar biasa karena ditengah himpitan kesulitan akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, ditengah banyaknya kebutuhan untuk sekolah anak-anaknya, ditengah ramainya musim kondangan, ditengah wabah kecemburuan sosial akibat dampak BLT, dan ditengah kegagalan panen akibat musim kering, masyarakat tetap teguh menjunjung budaya “ndesa”nya.

Di samping seni janeng, yang dulu sempat membawa Peniron menjadi begitu dikenal di Kebumen, hal unik lain adalah kehadiran “besek” (dus wadah katering nasi kalau dikota, tetapi ini terbuat dari bambu) serta oleh-oleh untuk para hadirin.

Besek merupakan oleh-oleh/bingkisan tamu umum, sedangkan tamu kelas “bisnis” berupa dus bekas mie instan yang berisi (berdasarkan yang saya dapat beserta 100 tamu lain): nasi beserta lauk komplit, telor bebek 5 biji, gula dan teh, sprite kaleng, roti cokelat 1 pak dan segepok buah. Untuk tamu “eksekutif” konon lebih “wah” lagi, apalagi untuk tamu “VIP”.

Mudah2an “budaya” baru ini tidak lantas berkembang lebih “parah” sehingga beban masyarakat menjadi bertambah lagi bahkan mengalahkan biaya untuk pendidikan dan hidup sehari-hari.

Older Entries