Goodbye Mobile Blogging

15 Komentar

Lebih dua minggu bahkan lebih saya nda update blog. Dengan waktu yang sulit dibagi serta banyak pekerjaan, update dan menulis terpaksa saya tunda dulu. Mau bagaimana lagi lha wong memang pekerjaan saya bukan tukang ngeblog kok. hehe. Saya memang sempat update blog, itupun cuma upload gambar golak ama masukin banner gratisan di blog ndesa Peniron.

Disamping kesibukan, saya juga jarang online karena SE K790i kesayanganku jebol! Mati karena terlalu lama kugunakan sebagai modem. Dengan kuota tak terbatas dari Indosat 3,5G broadband saya jadi tak terkontrol dalam menggunakan hp untuk modem. Barangkali karena kecapean, secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba apapun, hp tiba-tiba mati. Kupikir karena power baterai yang habis, tapi setelah aku charge cukup lamapun tetep saja hp nda mau hidup. Lagi

Acara 1 Suro di Ungaran (3)

11 Komentar

Ya Alloh, berilah kami kekuatan, kabulkan dan berkahilah segala yang telah kami rencanakan… Engkaulah Maha Tahu atas segala yang kami rencanakan….

Selepas sholat Isya, saya bergegas tidur. Seperti rombongan lain, saya tidak akan memaksakan diri begadang mengingat kami belum tahu seberapa berat acara kami esok. Apalagi ini pengalaman pertama saya mengikuti acara 1 Suro, disamping dengan orang tua juga di tempat yang lumayan jauh.
Kurebahkan tubuh gendutku di antara Mbah Giman dan dan adikku. Dan dalam sekejap saja saya langsung terlelap…

Baru sekitar sejam tertidur pulas, saya harus sudah terbangun. Acara yang kami sepakati di Sebantengan tadi malam memang mengharuskan kami sudah standby di sana sekitar jam 6 pagi. Karena rumah ini hanya punya 1 kamar mandi, maka kami harus bangun pagi dan mandi bergantian. Mbah Mul, sesepuh rombongan mendapat giliran mandi pertama. Tetapi begitu giliran yang kedua, mendadak air habis dan tidak mengalir.
Apa yang terjadi? Lagi

Acara 1 Suro di Ungaran (2)

9 Komentar

Waktu merambat semakin malam. Hujan masih turun dan kabut datang lumayan tebal. Berdua dengan temanku, kami masih terjaga. Tetapi untuk mengembalikan tenaga kami tetap harus beristirahat walaupun mata belum mengantuk. Maka kami beranjak dari teras dan beringsut masuk rumah untuk merebahkan badan. Saya memilih tidur dispring bed dalam kamar sementara teman saya tidur digelaran karpet.

Kulihat waktu sudah lebih dari jam 11 malam, tetapi Perumahan Gedang Asri ini sudah begitu sunyi. Ah, malam ini tahun akan berganti. Apa yang akan terjadi nanti? Saya masih gelisah tak bisa tidur. Ini malam 1 Suro yang konon keramat, sementara kenapa teman-teman serombongan malah tertidur lelap? Kutoleh adik iparku yang sudah tertidur di damping kananku. Tenang sekali walaupun dia akan menghadapi peristiwa besar sebentar lagi. Sementara di sebelah kiriku, Mbah Giman sudah pulas semenjak sore. Fisik tuanya memang butuh istirahat cukup dan semoga itu mampu memulihkan tenaganya.

Tiba-tiba saya teringat teman-temanku di rumah. Yang kemarin katanya juga mau melakukan ritual 1 Suro. Ada yang mau tirakatan, puasa dan ada yang pesen ke saya untuk “ngasah keris”. Ya ngasah keris sempat saya terjemahkan salah dan jadi guyonan orang-orang. Saya kira ngasah keris itu bener-bener mengasah keris, ternyata temen saya itu mau ritual ngasah kerisnya sama istrinya. Ah, sebenarnya dingin seperti ini paling enak memang melakukan ritual itu, kenapa saya mesti jauh pergi ke sini? “Maafkan aku istriku, kamu belum bisa mengasah keris ini sekarang!”. hehe Lagi

Acara 1 Suro di Ungaran

3 Komentar

1 Muharam adalah tahun baru Islam dan bertepatan dengan 1 Suro bagi orang Jawa. Malam 1 Syuro dianggap malam keramat. Berbeda dengan pergantian tahun Masehi yang dirayakan dengan penuh kemeriahan, malam 1 Syuro bagi orang Jawa justru lebih banyak diisi dengan laku ritual sebagai bentuk perenungan diri. Bentuk dari ritual itu misalnya dengan tirakatan, mandi kungkum, lek-lekan, bahkan bersemedi ditempat-tempat yang dianggap keramat. Disamping itu malam 1 Syuro juga dimanfaatkan untuk melakukan laku lain seperti menjamas (membersihkan) dan kirab benda pusaka.

Malam 1 Syuro tahun ini, saya merayakannya di Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang. Kota dikaki gunung Ungaran sehingga dikenal kota berhawa dingin. Seiring dengan banyaknya pabrik dan padatnya pemukiman, kota ini konon juga tak lagi sedingin dulu. Lagi

Andai bisa kuputar waktu

2 Komentar

Tahun 2008 telah berlalu dan alhamdulillah kita masih diberi kesempatan menapak tahun 2009 ini. Sebuah siklus waktu yang setiap tahun akan selalu berulang. Menjadikan kita semakin tua dan umur kita di dunia semakin sedikit.

Berganti dan bertambahnya tahun disambut dengan segenap suka cita, tetapi saya malah tak ingin tahun ini terus bertambah. Saya ingin kembali lagi mulai dari tahun 1980an, dimana masa kecil dan remajaku pernah kujalani. Tahun 80’an dimana saya mulai mengenal sekolah dan menjadi dewasa karena disunat, tahun 90’an ketika saya masuk sekolah menengah sampai mengenal dunia kampus. Lagi

Ulang Tahun Anakku

12 Komentar

ultah-naufal17 November 2007 yang lalu, Naufal Fikri anak pertamaku lahir. Senin kemarin tepat setahun kelucuannya meramaikan dan menambah hari-hari bahagia kami.

Karena dulu lahir numpang di rumah Mbah, (disamping karena kelahiran pertama kami masih perlu bimbingan, kebetulan jarak rumah Mbah tak lebih dari  100an meter dari rumah sakit) perayaan Ultah dirayakan sangat sederhana bersama adik-adik se RT di rumah Mbah juga.

Selamat Ulang Tahun Anakku. Bersama cinta kami, tumbuhlah menjadi anak yang sholeh, sehat, kuat, berbakti dan bermanfaat bagi sesama. Amin…

DONOR DARAH, KENAPA TAKUT?

9 Komentar

“Pak bs donor ora, bth wg 2 nggo bpke Suyuti”.. begitu tulisan sms yang aku terima dari temen saya Memed, siang Rabu kemarin. Sms-nya tidak langsung aku balas, tetapi sms itu langsung aku teruskan ke nomor, adikku. Maksud saya, karena butuh 2 orang, maka tak ada salahnya jika adikku saya cadangkan jika pada pemeriksaan nantinya darahku tak cukup sehat untuk diambil. Aku memang punya tekanan darah yang lumayan tinggi, sehingga pernah 2 kali gagal donor karena tekanan darahku di atas 160/90.

Sms ke adikku langsung direspon dengan jawaban “Bisa, kapan? Aku lagi mulang” Maka, aku jadi sedikit tenang. Belum sempat aku balas sms dari Memed, datang kang Suyuti bersama Kang Slamet ke kantorku, dan aku tentu sudah bisa menduga, maksud kedatangan mereka yang tiba-tiba itu dan memang benar. Akhirnya aku menyanggupinya untuk langsung ke UTD PMI Kebumen sekitar 2 jam lagi.

Karena banyaknya pekerjaan yang harus saya selesaikan, maka saya baru ke UTD PMI sekitar jam 17.00 WIB dan disusul adikku seperempat jam kemudian. Dan benar seperti yang kukuatirkan, petugas Unit Transfusi Darah PMI tidak berani mengambil darahku saat itu karena tensi darahku yang cukup tinggi. Akhirnya, aku disarankan datang lagi besok hari dengan syarat harus istirahat dan tidur cukup. Jadilah saat itu hanya darah adikku yang diambil, dan hal seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya.

Akhirnya lagi, baru tadi sore saya kembali ke UTD PMI dan sukses diambil darahnya walaupun tensi darahku masih lumayan tinggi, 140/90. Petugas sempat menyatakan apakah saya berani, dan saya katakan dengan mantap, saya berani. Saya yakin, selama fisik saya terasa siap dan pemeriksaan darah juga baik, tak ada yang perlu ditakutkan. Dan nyatanya, malam ini saya masih beraktifitas seperti biasa, lembur dan bisa nyambi bikin postingan ini.

*****

Cerita nyata di atas bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri bahwa saya seorang yang dermawan. Toh darah itu kan saya juga tidak beli Kang.

Pengalaman ini saya angkat, karena keprihatinan saya pada masih sedikitnya orang Peniron yang masih mau dengan senang hati berdonor darah. ..kalau desa lain saya tidak tahu.. Kenapa saya berani mengatakan kalau orang Peniron masih sedikit yang mau berdonor? Karena pengalaman beberapa kali saya diminta untuk donor karena alasan yang sama yaitu Susah mencari orang yang mau donor!

Ada beberapa sebab kenapa susah mencari pendonor darah. Beberapa teman punya alasan yang berbeda seperti: takut jarum suntik/sakit, takut tidak kuat, takut darah yang baik habis, dan hanya sedikit yang beralasan takut tertular penyakit menular, HIV/AIDS misalnya. Sayangnya, penyebab ketakutan mereka berdonor selalu mereka pelihara, bahkan dikembangbiakkan, sehingga jadilah fenomena susah mencari pendonor setiap kali ada tetangga yang membutuhkan selalu terjadi.

Bagi teman-teman yang anti donor, rasa takut adalah hal yang manusiawi, tetapi berbuat demi hal yang manusiawi harusnya mampu menghilangkan rasa takut itu. Saya yakin, alasan dan argumentasi teman-teman anti donor didapat dari mereka yang belum pernah berdonor. Jadi mengapa harus percaya? Bukankah ada fakta yang bisa dilihat, bahwa kami dan teman-teman yang terbiasa donor juga sama sehatnya? Bahkan mungkin justru lebih sehat?

Jujur saja, dari kecil saya belum pernah sekalipun disuntik karena sakit ataupun imunisasi, jadi saya termasuk orang yang takut jarum suntik. Tetapi pada saat donor darah, nyatanya saya tidak berteriak kesakitan dan begitupun pendonor yang lain, saya juga tidak pusing atau pingsan walaupun saya diambil darahnya saat tensi darah saya lumayan tinggi. Saya dan darah saya juga sehat dan normal-normal saja selama ini, bahkan berat badan saya selalu bertambah kan? Jadi, kenapa teman-teman harus takut?

Kenapa harus takut untuk sedikit berkorban demi saudara-saudara kita yang membutuhkan? Toh kita tak berkorban apa2 kecuali mungkin sedikit waktu. Bayangkan jika tak ada stok darah karena kita yang sehat “pelit” untuk menyumbangkan darah kita. Bayangkan jika saat itu Anda yang membutuhkan dan akhirnya mati karena tak ada darah.

Maka, sebagai manusia kewajiban kita adalah saling menolong selama kita mampu, tanpa memandang untuk siapa, apa, kapan, di mana,dan bagaimana.

Sesekali, cobalah Anda datang ke UTD PMI. Lihat dan perhatikan betapa banyak orang berharap bantuan dari darah kita. Wajah-wajah cemas mereka karena stok darah yang selalu terbatas sehingga PMI mewajibkan untuk mengganti dengan pendonor lain demi terjaganya stok darah. Dan dengan cara itu, mereka jadi tidak harus keluar uang untuk membeli darah; Haruskah kita yang sehat tetap tak mempunyai empati?

Dari sumber terpercaya yang saya baca, memang tidak ada manfaat langsung menjadi donor darah. Namun dengan mendonorkan darah secara rutin setiap tiga bulan sekali, maka tubuh akan terpacu untuk memproduksi sel-sel darah baru, sedangkan fungsi sel-sel darah merah yang berfungsi untuk oksigenisasi dan mengangkut sari-sari makanan. Dengan demikian fungsi darah menjadi lebih baik sehingga donor menjadi SEHAT. Selain itu, kesehatan pendonor akan selalu terpantau karena setiap kali donor dilakukan pemeriksaan kesehatan sederhana dan pemeriksaan uji saring darah terhadap infeksi yang dapat ditularkan lewat darah.

Bahkan dari kebanyakan sumber lain lain bahkan tegas menyatakan bahwa rutin berdonor akan menyehatkan tubuh karena bergantinya sel-sel darah yang lebih baik. Dan berbagai kesaksian menyatakan bahwa tubuh terasa lebih baik setelah berdonor.

Menutup tulisan ini, saya mengajak Anda mau menjadi provokator yang baik untuk mengkampanyekan budaya tidak takut berdonor darah. Jika termasuk golongan penakut itu, mari berubah; cukuplah dengan satu alasan: DEMI KEMANUSIAAN..

Older Entries