Menjadi Jaka Tingkir di Kali Luk Ulo

12 Komentar

Kesaktian Jaka Tingkir, seorang muda dari Pengging yang akhirnya menjadi raja Pajang berjuluk Sultan Hadiwijaya sudah begitu melegenda. Seorang sakti sekaligus ambisius hingga mengantarnya menjadikan Pajang, yang dahulunya hanya kadipaten dibawah kekuasaan kesultanan Demak mampu berbalik dan menjadi kerajaan besar hingga sampai ke daerah Madura.

Cerita kesaktian Jaka Tingkir salah satunya adalah ketika dia mampu menaklukan kawanan buaya putih tatkala menyeberang sungai Bengawan Solo dengan rakitnya. Dengan kesaktiannya, kawanan buaya itu bahkan menjadi abdi dengan mendorong rakitnya menyusuri sungai Bengawan Solo. Lagi

Golak

16 Komentar

Gambar ini sudah diupload lumayan lama. Karena belum punya waktu, tak ada tulisan yang menyertai kecuali “Ini baru gambare, tulisane nyusul ya..”..

Gambar disamping adalah gambar golak. Bagi orang Kebumen harusnya tahu atau paling tidak pernah mendengarnya. Ya, golak adalah salah satu makanan tradisional khas Kebumen. Di samping golak, Kebumen punya banyak makanan khas seperti soto Tamanwinangun, Sate Ambal, Lanting Karanganyar dan Soto Petanahan. Disamping makanan di atas, ada juga peyek yutuk dan pecel, makanan khas ini dapat kita jumpai terutama jika kita pergi ke Pantai Bocor atau Petanahan.

Kembali ke golak, Peniron merupakan salah satu daerah penghasil golak, makanan khas yang berbahan ubi kayu alias singkong. Bentuk golak dibentuk menyerupai angka 8 seperti tampak pada gambar. Bagi wong ndesa seperti saya, golak cukup nikmat dimakan berteman pecel. Di Peniron banyak penjual golak. Disamping berjualan di desa sendiri terutama di pasar dan di keramaian, sebagian juga memasarkan dengan membuka “outlet” di luar Peniron seperti di pertigaan jembatan Tembana, pertigaan Sokka, Pasar Keputihan, Pasar Tengok dan lain-lain. Di bawah, ada teman penggemar golak yang sudah memberi referensi “outlet2” itu.

Di samping golak Peniron, penjual golak lain dapat dijumpai di dalam kota Kebumen yaitu disebelah utara toko Mantep jalan Suprapto dan di depan MAN 2 Kebumen jalan Pemuda. Penjual golak yang membuka “outlet” itu buka dari sore sampai malam hari.

Ada yang belum pernah makan golak? Sebaiknya Anda mencobanya jika ingin pengalaman kuliner Anda lebih lengkap. Dan golak Peniron akan memberi jaminan rasa yang bikin ketagihan.

LODEH KLEWEK DAN SHOLAT IED

9 Komentar

Lodeh/sayur klewek, mungkin cuma ada di Peniron dan sekitarnya, terutama yang mempunyai tradisi sama dengan Peniron. Bahkan di Peniron sendiri mungkin juga tidak semua daerah menggunakan lodeh klewek sebagai menu wajib. Bahkan menu ini bukan hanya saat lebaran, tetapi menjadi menu wajib pada acara lain seperti muludan, rajaban, likuran dan suran.

Klewek adalah buah yang dihasilkan dari pohon pucung. Orang luar Peniron khususnya Kebumen menyebutnya begitu. Bentuk buahnya mirip kerang kecil berwarna hitam. Saya berharap ada yang mau memberikan referensi mengenai klewek karena akses saya dari kampung sangat terbatas untuk membuka-buka winkipedia atau sejenisnya.

Lodeh adalah istilah untuk menyebut sayur secara umum di Peniron. Menyebut lodeh klewek, makanan ini seperti sayur biasa mirip seperti sayur kikil, bahkan mungkin persis tetapi ditambah buah klewek sehingga menjadi kehitaman. Bagi yang belum terbiasa, mungkin sedikit asing, tetapi kalau sudah biasa seperti saya, lodeh klewek menjadi menu yang paling dinanti saat acara badan.

Sebagian, mungkin sudah meniru tradisi kota dengan ketupat dan opornya. Tetapi wong Peniron seperti saya tetap merasa kurang jika belum menyantap lodeh klewek dan goreng ayam kampung. hehe

Sholat Ied

Sholat Ied terutama saat Idul Fitri menjadi momen yang sangat ditunggu karena saat itulah kita bisa ketemu dengan hampir semua orang, laki – perempuan, tua – muda dan ditambah saudara-saudara perantauan. Suasana seperti ini hanya bisa dijumpai saat lebaran.

Yang lebih asyik, setelah sholat Ied diteruskan dengan bersalam-salaman dan karena banyaknya bisa makan waktu cukup lama. Sayangnya, sholat Ied di Peniron tidak dilakukan di satu tempat, tetapi di 4 tempat sehingga tidak bisa bersalaman dari semua penjuru Peniron. Di kota, bersalam-salaman setelah sholat Id mungkin tak lagi ada. Contohnya di daerah mertua saya.

Kangen, tentu subyektip karena berhubungan dengan rasa. Dan, lodeh klewek serta sholat Id adalah salah satu yang saya kangeni di moment lebaran. Teman-teman pasti juga punya hal ngangeni dari kampung yang tak didapatkan di kota. Maka, mudiklah lagi minimal jika lebaran tiba tahun depan.

DANGSAK, KESENIAN KHAS DARI GUNUNG

19 Komentar

Dangsak “In Action”

Nama Dangsak barangkali hanya dikenal oleh masyarakat Peniron dan sekitarnya. Sebagai sebutan untuk seni tradisional yang memang langka, Dangsak memang tidak populer walaupun didaerah Peniron dan Watulawang seni ini cukup digemari.

Seni Dangsak hanya ada di Peniron dan Watulawang. Di daerah lain seperti Karanggayam, seni ini mungkin ada walaupun dengan sebutan lain. Di daerah Watulawang, daerah muasal seni Dangsak, seni ini lebih sering disebut “Cepet Rolas” (Topeng 12). Populasi seni ini juga tidak menyebar luas, sehingga seni ini bisa dibilang sebuah seni tradisional yang khas dan langka.

sebagai seni hiburan, dangsak jarang dimainkan sebagai hiburan hajatan layaknya wayang kulit, janeng, lengger, kuda lumping dan yang lainnya. Dangsak lebih sering dimainkan karena ditanggap oleh komunitas, paguyuban seperti pada acara peringatan HUT RI, halal-bihalal lebaran atau acara khusus lainnya.

Dangsak saat mengikuti karnaval HUT RIke 63 di Kebumen


Kelompok seni Dangsak di Peniron hanya ada 1 grup, yaitu di Dusun Perkutukan yang berdiri pada tahun 1992. Sebelum itu, dangsak adalah seni khas dari dusun Kebayeman di desa Watulawang yang sudah ada berpuluh-puluh tahun lamanya.

Lantas apa yang khas dari seni Dangsak?

Yang pertama, Dangsak tidak ada didaerah lain di Kebumen. Disamping Peniron dan Watulawang, kemungkinan besar hanya ada didaerah Karanggayam yang secara kultur memang sama dengan Watulawang dan sebagian Peniron.

Kedua: topeng raksasa dan kostum penarinya. Topeng raksasa dengan kombinasi kostum penari yang serba hitam menjadikan seni ini membuat takut sebagian orang terutama anak-anak.

Yang ketiga adalah seni tarinya. Sebuah kelompok tarian yang terdiri dari 8-12 penari pria. Tarian dangsak sebagian hampir mirip dengan tari kuda lumping, tetapi lebih kental unsur “liar”nya. Termasuk cara “trance” atau kesurupan dalam seni dangsak juga mirip kuda lumping, hanya “ugal-ugalan”. Konon tari dangsak atau cepet rolas memang menceritakan dan menggambarkan perilaku raksasa dari hutan.

Yang keempat adalah alat musiknya. Dulu, dangsak hanya bermodal 2 buah kentongan dan sebuah kaleng bekas sebagai alat musik, terutama jika sedang melakukan pawai. Tetapi untuk tarian, dangsak menggunakan perangkat gamelan mini.

Dangsak memang khas, sayang seni ini sepertinya tidak terkelola dengan baik dan profesional. Hal ini terlihat dari kostum dan asesoris penari yang kurang menunjukkan tampilan dengan sentuhan seni.
Demikian pula dalam hal gerakan penari yang perlu keterpaduan gerakan maupun koreografi.

Saya sendiri kurang bahkan tidak mengerti tentang seni, tetapi jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin dangsak bisa lebih populer. Dari bincang-bincang dengan Kang Memed selaku dedengkot Dangsak, upaya kearah itu sudah mulai dilakukan. Disamping sepatu model “Jaka Sembung”, konon model topeng raksasa juga akan diperbaharui. Bahkan, koreografer akan didatangkan jika sudah ketemu dengan orang yang mampu dan mau dibayar murah. hehe

Tidak hanya kita, pemerintahpun sebenarnya punya kewajiban untuk menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang dan hanya menjadi cerita. Tetapi selama ini kita tidak tahu apa kerja dari dua dinas berbeda yang membidangi seni dan kebudayaan itu.

Ataukah budaya kita harus dilacurkan dulu ke negara tetangga agar mendapat perhatian karena efek dari kebakaran jenggot?
Jangan!

MAKAM MBAH WATUPECAH

4 Komentar

Secara tak sengaja, kami “menemukan” tempat ini saat pemakaman Mbah kami tercinta Atmapawira hari Senin 23 Juni kemarin.
Disela acara pemakaman di TPU Bulugantung, teman kami mengambil gambar sebuah makam. Sebuah makam khas, tetapi bentuknya memang sangat berbeda dari makam-makam sekelilingnya, terutama dari ukuran dan modelnya. Material makam berbahan kayu jati dengan lantai menggunakan batu yang tertata rapi dan berdinding keliling kayu jati.

Sebagian orang, terutama di Peniron dan orang-orang yang gemar melakukan ritus spiritual memang mengistimewakan makam tua ini karena merupakan makam salah satu tokoh Peniron jaman dulu.

Kami memang belum mendapatkan narasumber yang tahu persis sejarah mengenai Mbah Watupecah, tetapi beliau memang merupakan salah satu sesepuh dan ksatria desa.

Karena hal di atas, makam ini menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang. Setiap warga Dusun Bulugantung dan Perkutukan yang nyekar/ziarah/resik ke makam leluhur, wajib hukumnya untuk ziarah dulu ke makam ini. Maka tak mengherankan jika sisa pembakaran kemenyan yang dibakar peziarah beronggok tinggi.

Dulu pada saat SDSB masih ada, makam ini selalu ramai oleh para pecandu judi untuk berharap mendapat semacam “wangsit”. Sekarangpun, tempat ini masih menjadi tujuan ziarah bagi sebagian orang dengan berbagai tujuan.

Jika Anda menyukai petualangan mistis, peziarah atau ingin sekedar uji nyali, Anda boleh datang ke makam yang “horor” ini. Tentu dengan segala resiko yang harus berani Anda tanggung sendiri.