Jembatan Klapasawit di dukuh Klapasawit desa Peniron yang berada di ruas jalan Peniron – Kebakalan, Kamis malam Jum’at, 29 Januari 2009 ambruk. Ambruknya jembatan tersebut menyebabkan arus transportasi di jalur jalan tembus Kebumen – Banjarnegara tersebut terputus selama 2 hari. Padahal jalur tersebut sangat vital bagi masyarakat dan sebagai jalur satu-satunya angkutan umum trayek Kebumen – Peniron – Kebakalan – Wonotirto.

Putusnya jembatan tersebut sebenarnya sudah dikhawatirkan masyarakat sejak lama karena jembatan itu sudah lebih dari 8 tahun digerus erosi. Oleh masyarakat, kerusakan jembatan di jalan Kabupaten itu juga sudah lama diusulkan, tetapi pihak terkait terutama Bidang Bina Marga DPU Kab. Kebumen belum juga melakukan perbaikan.

Untuk mengatasi kesulitan masyarakat, pada hari Sabtu kemarin dilakukan kerja bakti membuat jembatan darurat dari kayu dan bambu disebelah jembatan yang terputus. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten beserta jajaran terkait pada hari Sabtu itu juga melakukan peninjauan langsung ke lokasi, termasuk beberapa wartawan cetak dan elektronik seperti Suara Merdeka, KR, Wawasan, Ratih TV dan RCTI.

Selain putusnya jalur Kebumen – Kebakalan akibat ambruknya jembatan, infrastruktur transportasi di jalur ini juga sudah sangat memprihatinkan. Selain jalan di antara SMPN 2 Pejagoan sampai balai desa yang sudah sangat tak layak sebagai jalan Kabupaten karena seperti kubangan kerbau, jalan mulai Peniron sampai Kebakalan juga sudah rusak parah. Selain kepadatan dan beban dari truk-truk pengangkut pasir, jalan di jalur ini juga seperti tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Bukti yang paling nyata adalah peningkatan jalan yang sepanjang sekitar 8 km dari Karangpoh ke Peniron saja sampai memakan waktu 3 tahun dengan 4 tahap yang sekarang masih menyisakan sekitar 800 meter.

Desa-desa mulai dari Karangpoh sampai Kebakalan memang bagai anak tiri pemerintah/penguasa dibanding jalur lain disekitar Peniron seperti jalur Kebumen Karangsambung dan Karanggayam – Kebakalan. Padahal pada saat menjelang Pemilu seperti ini, Peniron dan sekitarnya selalu menjadi daerah rebutan partai politik. Sayangnya, tidak pernah dari dulu ada wakil rakyat dari daerah ini. Dan sayangnya, masyarakat Peniron dan sekitarnnya pun masih terlalu murah memberi hak suara pada setiap Pemilu. Entah masyarakat yang terlalu bodoh sehingga tidak menyadari potensinya, atau memang sikap parpol-parpol itu yang membiarkan kebodohan masyarakat demi potensi tambang suara mereka.

Maka, menjelang Pemilu 2009 semoga masyarakat bisa menyadari potensinya dengan lebih pintar menggunakan hak pilihnya. JANGAN PILIH CALEG BUSUK!

Ket: foto dari SM