Ya Alloh, berilah kami kekuatan, kabulkan dan berkahilah segala yang telah kami rencanakan… Engkaulah Maha Tahu atas segala yang kami rencanakan….

Selepas sholat Isya, saya bergegas tidur. Seperti rombongan lain, saya tidak akan memaksakan diri begadang mengingat kami belum tahu seberapa berat acara kami esok. Apalagi ini pengalaman pertama saya mengikuti acara 1 Suro, disamping dengan orang tua juga di tempat yang lumayan jauh.
Kurebahkan tubuh gendutku di antara Mbah Giman dan dan adikku. Dan dalam sekejap saja saya langsung terlelap…

Baru sekitar sejam tertidur pulas, saya harus sudah terbangun. Acara yang kami sepakati di Sebantengan tadi malam memang mengharuskan kami sudah standby di sana sekitar jam 6 pagi. Karena rumah ini hanya punya 1 kamar mandi, maka kami harus bangun pagi dan mandi bergantian. Mbah Mul, sesepuh rombongan mendapat giliran mandi pertama. Tetapi begitu giliran yang kedua, mendadak air habis dan tidak mengalir.
Apa yang terjadi? Ternyata air PAM di Perum Gedang Asri mengalir bergiliran mulai jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Ternyata kok sama dengan di kontrakan Perum Griya Praja Mukti Kebumen yang kami tempati, air PAM hanya mengalir 4 kali seminggu dari jam 8 sampai jam 3 sore!

Mas Agus, tuan yang rumahnya kami tinggali kalang kabut saat itu juga. Dalam gerimis kami terpaksa mencari menyambung berpuluh-puluh slang plastik untuk dapat mengambil air sumur dengan pompa. Dan dengan penuh perjuangan, akhirnya teratasi problem itu.
Jam 6 kurang sedikit, 2 mobil kami meluncur ke Sebantengan. Hanya barang-barang seperlunya yang kami bawa seperti ageman, pusaka, dan kamera digital. Dan tidak sampai 10 menit, kami akhirnya tiba di sana. Tidak langsung ke Jl. Gurami Utara B45, tetapi transit di rumah tetangga untuk berganti busana.

Akhirnya, tepat jam setengah 8, acara yang kami tunggu dimulai. Sebuah acara sakral tepat dihari awal tahun Jawa. Hari dan tanggal yang bagi kebanyakan orang Jawa dianggap keramat, sehingga banyak yang pantang untuk melakukan aktifitas.
Mbah Mul sebagai cucuk lampah memimpin rombongan kami paling depan diikuti Ibu dan Om Untung sebagai pengganti alm. Bapak, sementara saya dan Wahyu adikku mengiring paling belakang membawa ubo rampenya. Istriku, Tante Ina dan Mba Upi malah belum selesai berdandan sehingga tidak bisa ikut dalam upacara ini.

Setelah serah-serahan, baik penyerahan calon pengantin maupun maharnya, maka dimulailah upacara ijab qobul itu. Alhamdulillah, semua berlangsung dengan lancar. Cuma satu yang menurut kami kurang sreg, ketika khotbah nikah ustadz yang membawakan cuma memakai sandal jepit dan berjaket lusuh sehingga sedikit kontras dan mengganggu suasana. Tapi tak mengapa wong itu memang sudah menjadi keyakinannya..

nikah-gayuhSetelah makan, kami langsung bersiap mengikuti acara panggih manten atau resepsi dengan memajang sepasang pengantin dikursi pelaminan. Acara panggih manten dan resepsi berlangsung di Gedung Pertemuan Darma Bhakti Pertiwi, DPRD Kabupaten Semarang. Acara yang sedianya dimulai jam 12 siang, diajukan menjadi jam setengah 12 mengingat acara panggih manten dapat selesai lebih awal. Kebetulan rombongan susulan keluarga Kebumen menjadi tamu pertama begitu acara resepsi dimulai. Acara yang sangat meriah walaupun diluar hujan cukup deras ini berlangsung sampai jam 2 siang.

Setelah selesai acara, kami kembali transit di Perum Gedang Asri tempat kami menginap semalam. Setelah mandi dan berkemas, kami menuju rumah besan baru kami di Jl. Gurami Utara untuk berpamitan. Dan setelah itu, kami menempuh perjalanan pulang ke Kebumen.

Demikianlah, acara 1 Suro di Ungaran yang sangat spesial bagi kami dan keluarga. Mohon doa restunya semoga adik kami dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah dan diberi keturunan soleh dan solehah…

tamat………….