Waktu merambat semakin malam. Hujan masih turun dan kabut datang lumayan tebal. Berdua dengan temanku, kami masih terjaga. Tetapi untuk mengembalikan tenaga kami tetap harus beristirahat walaupun mata belum mengantuk. Maka kami beranjak dari teras dan beringsut masuk rumah untuk merebahkan badan. Saya memilih tidur dispring bed dalam kamar sementara teman saya tidur digelaran karpet.

Kulihat waktu sudah lebih dari jam 11 malam, tetapi Perumahan Gedang Asri ini sudah begitu sunyi. Ah, malam ini tahun akan berganti. Apa yang akan terjadi nanti? Saya masih gelisah tak bisa tidur. Ini malam 1 Suro yang konon keramat, sementara kenapa teman-teman serombongan malah tertidur lelap? Kutoleh adik iparku yang sudah tertidur di damping kananku. Tenang sekali walaupun dia akan menghadapi peristiwa besar sebentar lagi. Sementara di sebelah kiriku, Mbah Giman sudah pulas semenjak sore. Fisik tuanya memang butuh istirahat cukup dan semoga itu mampu memulihkan tenaganya.

Tiba-tiba saya teringat teman-temanku di rumah. Yang kemarin katanya juga mau melakukan ritual 1 Suro. Ada yang mau tirakatan, puasa dan ada yang pesen ke saya untuk “ngasah keris”. Ya ngasah keris sempat saya terjemahkan salah dan jadi guyonan orang-orang. Saya kira ngasah keris itu bener-bener mengasah keris, ternyata temen saya itu mau ritual ngasah kerisnya sama istrinya. Ah, sebenarnya dingin seperti ini paling enak memang melakukan ritual itu, kenapa saya mesti jauh pergi ke sini? “Maafkan aku istriku, kamu belum bisa mengasah keris ini sekarang!”. hehe

Teringat keris, saya jadi teringat barang-barang yang kami bawa dari Kebumen. Maka daripada saya tidak bisa tidur, saya kembali keluar kamar. Temanku yang tadi sore ngobrol sudah tertidur. Saya ambil tas berisi perlengkapan dari rumah. Tas yang berisi perangkat pakaian Jawa dan sebilah keris. Beberapa pakaian Jawa berupa beskap dan blangkon serta sebilah keris memang kami bawa sebagai ageman ritual 1 Suro ini. Aku sendiri sebenarnya tidak paham kenapa ageman dan keris itu harus dipakai. Kata Mbah Giman dan Mbah Mul, sesepuh yang kami bawa sebagai “imam’, Syuro adalah tahun barunya wong Jawa sehingga ageman itu sebagai identitas dalam ritual.

Karena memang sudah kami niati dari rumah demi mendapatkan pengalaman baru 1 Syuro tahun ini, maka saya paksa-paksakan untuk nurut. Saya tak membantah karena saya juga berpikir bahwa sebagai wong Jawa saya juga punya tugas melestarikan budaya moyang saya. Budaya Jawa bagiku sebuah nilai, yang perlu saya lestarikan karena didalamnya menyimpan begitu banyak ajaran moral yang masih sangat relevan untuk diterapkan diera global yang serba gombal ini. Ajaran kejawen sarat pesan moral dan kekuatan nilai-nilai kehidupan. Dan bagi saya itu adalah peninggalan mengagumkan dari moyang kami. Kenapa harus saya harus tolak jika itu merupakan bagian nguri-uri warisan budaya?

Menjelang tengah malam itu, tiba-tiba hp saya berkedip ada sebuah tanda pesan masuk. Kubuka dan ternyata cuma berisi sebuah ucapan selamat dari temanku di Cirebon. “Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1430 H / 1942 Saka, semoga tahun baru kita dapat menjadi berubah dan berbuat lebih baik. Lagi ritual di mana?”

Begitu pesan singkat dari temenku yang orang Sunda. Wah, temenku yang orang Sunda saja tahu kalau malam ini tahun baru Jawa, kenapa saya yang orang Jawa harus ragu untuk menjadi bagian dari budaya Jawa? Sementara budaya negara lain seperti Jepang begitu dikagumi dan sebentar lagi Tahun baru Imlek pasti akan dirayakan dengan sangat meriah?
Dan malam ini adalah malam tahun baru 1 Suro JE 1942, tahun baru kami orang Jawa..

Begitulah, pesan singkat itu seperti menyadarkan kegamangan saya. Akhirnya setelah kubalas pesan singkat itu, saya bergegas merapikan kembali barang-barang yang akan kami pakai nanti. Keris yang tadi sempat saya keluarkan, ageman Jawa, wewangian dan perangkat lain kembali aku kemas rapi. Biar orang tidak curiga jika nanti dibuka. Kalau tak diberesi jangan-jangan nanti malah dikira keris itu keluar sendiri. Selesai itu, saya lalu ke kamar mandi, mengambil air wudlu dan menunaikan Sholat Isya yang tadi hampir saja kelupaan.

Ya Alloh, berilah kami kekuatan, kabulkan dan berkahilah segala yang telah kami rencanakan… Engkaulah Maha Tahu atas segala yang kami rencanakan….  (bersambung)