1 Muharam adalah tahun baru Islam dan bertepatan dengan 1 Suro bagi orang Jawa. Malam 1 Syuro dianggap malam keramat. Berbeda dengan pergantian tahun Masehi yang dirayakan dengan penuh kemeriahan, malam 1 Syuro bagi orang Jawa justru lebih banyak diisi dengan laku ritual sebagai bentuk perenungan diri. Bentuk dari ritual itu misalnya dengan tirakatan, mandi kungkum, lek-lekan, bahkan bersemedi ditempat-tempat yang dianggap keramat. Disamping itu malam 1 Syuro juga dimanfaatkan untuk melakukan laku lain seperti menjamas (membersihkan) dan kirab benda pusaka.

Malam 1 Syuro tahun ini, saya merayakannya di Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang. Kota dikaki gunung Ungaran sehingga dikenal kota berhawa dingin. Seiring dengan banyaknya pabrik dan padatnya pemukiman, kota ini konon juga tak lagi sedingin dulu.

Rombongan berjumlah 15 orang termasuk sopir berangkat hari Minggu, 28 Desember 2008 dengan menggunakan 2 buah mobil. Satu mobil rombongan dari Bandung dan 1 mobil berisi rombongan Kebumen. Start dari Kebumen sekitar jam 2 siang. Karena masa liburan, jalanan lumayan ramai dibandingkan biasanya. Jam 16.30an kami berhenti di Rumah Makan Sumber Rejeki Mulyo, Tempuran Magelang untuk melepas penat sekaligus sholat Ashar dan makan.

Perjalanan dilanjutkan dengan cukup santai. Setelah berhenti sejenak disebuah mesjid dijalan alternatif antara Ambarawa – Bawen untuk sholat Maghrib, akhirnya kami sampai di Ungaran sekitar pukul setengah 8 malam. Kami langsung menuju rumah Mas Agus di Perumahan Gedang Asri, tempat transit yang telah disiapkan sebelumnya. Sambil beristirahat, kami mandi bergantian.

Sambil menunggu jam 12 malam, kami jalan-jalan melihat suasana kota Ungaran yang memang lumayan dingin. Di alun-alun kecil Ungaran kami sempat berhenti sejenak, kebetulan ada pertunjukan wayang kulit dalam rangka pergantian tahun ini. Kami mampir di Jl. Gurame Utara B45 Sebantengan milik seorang kenalan. Membicarakan acara yang akan kami lalui sehingga jauh-jauh kami dari Kebumen segala yang direncanakan dapat berjalan dengan lancar.

Ungaran yang dingin, malam itu menjadi semakin dingin karena hujan. Perumahan Gedang Asri yang memang berada diperbukitan membuat kami seolah berada disebuah villa macam Baturraden, Kaliurang atau Bandungan yang pernah kami kunjungi. Dingin sepertinya memang lumayan cocok dengan rencana menghabiskan malam tahun baru Syuro di kota ini.

Sekitar jam 10, kami kembali ke tempat transit. Sebagian orang sudah tertidur karena kelelahan dan menyimpan tenaga untuk acara nanti. Sebagian yang belum mengantuk termasuk saya menunggu malam dengan mengobrol dan membuka-buka laptop, membuka-buka blog dan berselancar melihat-lihat kampung halaman dengan Google Earth. Hujan deras yang disertai angin membuat teras rumah yang belum selesai direhab menjadi basah kuyup sehingga memaksa kami semua masuk rumah. Detik waktu menuju pergantian tahun terus berjalan dan di kota dingin ini, kami akan melewatinya. Berharap pada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kami diberi berkah menjalani rencana-rencana kami…. (bersambung…)