nggarap sawahJudul di atas barangkali dianggap hiperbola oleh kebanyakan orang termasuk Anda. Bukan karena kebetulan saya juga orang desa, bukan karena saya punya sepetak sawah, bukan pula karena saya juga sama kecil dan senasibnya dengan mereka. Sayapun tak bermaksud menjadi pahlawan bagi petani dan tidak ingin pula menjadikan diri saya pahlawan karena saya juga merasa bukanlah petani. Saya cuma orang kecil yang berempati pada nasib dan kehidupan mereka karena setiap hari saya selalu hidup dan bersinggungan dengan mereka, tetangga-tetangga saya.

Selama ini, terlalu banyak orang yang hanya berpikir, bahwa pahlawan adalah orang besar dengan pengabdian luar biasa pada negara. Kriteria sosok pahlawan selalu berputar pada sosok heroik, berjiwa pemimpin, berpendidikan dan pernah menjadi bagian dari perubahan bangsa, tak terkecuali pahlawan-pahlawan kesiangan yang latah menganggap dirinya atau dianggap oleh kelompoknya berjasa pada kehidupan negara ini.

Maka, terjadilah banyak demo-demo guru yang karena mengklaim dirinya pahlawan sehingga mereka merasa berhak mendapat perlakuan istimewa dari negara. Gaji PNS harus terus naik, atlet harus dirangsang dengan bonus besar, anggota perlemen harus digaji besar, pejabat harus berfasilitas mewah agar tidak ngisin-ngisini rakyatnya. Dan yang menggelikan, kenaikan gaji diputuskan sebagai langkah menghindari korupsi. Bukankah yang korupsi itu juga sudah bergaji tinggi?
Sebuah iklan parpol yang menayangkan seorang tokohpun lantas menjadi bahan debat pro kontra menyoal kepantasan sang tokoh menjadi pahlawan. Padahal, sebenarnya rakyat kecil tak peduli.

Perilaku dan cara pikir seperti itu tidak mereka sadari sering menampar perasaan keadilan kaum kecil seperti buruh dan petani, termasuk saya. Ribut-ribut soal kenaikan gaji, pengangkatan PNS, dan semua dalih yang berlindung dibalik klaim pengabdian dan kebesaran jasa pada negara seolah meniadakan keberadaan kaum-kamu marginal yang sebenarnya punya kontribusi luar biasa dalam menyokong kehidupan bangsa ini.

Seorang petani bahkan melontarkan kalimat retorik pada saya, masihkah mereka yang minta gaji selalu naik itu punya rasa terima kasih, tidakkah mereka punya rasa syukur, tidakkah mereka melihat bahwa masih banyak bagian dari bangsa ini yang hidupnya jauh dari fasilitas yang mereka nikmati dari negara? Apa jadinya jika yang merasa pahlawan-pahlawan itu menjadi petani seperti dirinya?

Petani, The Real Hero

Hari Minggu menjelang hari raya Qurban 1429 H, semenjak Sabtu malam bumi Peniron terguyur hujan. Tetapi bagi petani Peniron, cuaca bukan halangan untuk berhenti bekerja. Waktu bagi mereka amat menentukan masa depan. Karena jika sampai mereka terlambat mengolah bumi, maka bumi pun dengan perputaran siklus musimnya dapat terlambat memberi air pada sawah mereka. Maka pagi-pagi ditengah guyuran hujan mereka sudah berbalur lumpur karena sawah mereka harus segera ditanami. Tak peduli dengan resiko petir apalagi sekedar masuk angin seperti penyakit para priyayi.

Ya, petani Peniron dan desa-desa sekitarnya mungkin tak seberuntung petani di daerah Kebumen lain. Di daerah lain, petani mempunyai lahan luas dengan irigasi teknis memadai. Di Peniron dengan lahan yang terbatas, mereka mesti berjuang agar sawah sampai tak mengering sebelum panen. Sebagian besar sawah mereka memang tadah hujan. Irigasi teknis yang ada tak cukup untuk mengairi sawah sepanjang musim karena air sungai terlalu sepat mengering. Maka, jika tak berpacu dengan waktu, mereka bisa gagal panen pada masa tanam yang kedua.

Di samping masalah irigasi teknis, saat ini petani juga masih bingung dengan ketiadaan pupuk. Pupuk entah bersubsidi ataupun nonsubsidi sudah sekitar 2 bulan menghilang dari pasaran. Kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan bahkan sudah mengajukan RDKK dan membuat kesepakatan dengan pengecer pupuk resmi jauh sebelumnya. Toh sampai sekarang pupuk itu masih belum juga tersedia. Kondisi ini tentu sangat meresahkan petani karena kerja kerasnya bisa sia-sia akibat buruknya produksi akibat tanaman mereka kekurangan pupuk.

Petani memang sarat beban. Bermandi peluh setiap hari. Hidup makan seadanya dan bertahan agar mampu menyekolahkan anak minimal sampai SD, dan masih dihantui kekhawatiran akan kegagalan panen. Tak ada upaya untuk membela mereka dari himpitan kesulitan kecuali hanya berupa propaganda-propaganda politikus. Mereka dihargai dan menjadi komoditas penting saat Pemilu mulai digelar, saat partai-partai politik menjual mereka dalam iklan kampanye, dan saat pada calon wakil rakyat berkeliling mencari mangsa dan menjual diri. Atau disaat para aktivis dan adik-adik mahasiswa yang konon pembela rakyat itu membutuhkan simpati dan simpatisan untuk tema unjuk rasa.

Hanya saat itu petani seolah menjadi bagian penting bangsa. Selebihnya dan setelah itu, nasib mereka terlupakan dan tak pernah berubah. Tetap sulit dan miskin disaat negara menghambur-hamburkan uang negara untuk menaikkan dan membayar gaji pegawai, ditengah pejabat membeli mobil-mobil dinas baru, ditengah parpol membuat kampanye politik bermilyar-milyar, ditengah wakil rakyat dan politikus sibuk mencari kekuasaan dan uang.

Dari kerja keras dan peluh merekalah kita makan. Kerja keras, berusaha menghidupi diri sendiri dan menjalani hidup apa adanya adalah bentuk bakti mereka untuk negaranya. Dalam ketidakadilan dan kesulitan, mereka tak pernah protes karena bagi mereka Gusti Maha Kuasa lah yang memberi rejeki dan dari bumilah mereka hidup. Gelar pahlawan tak pernah mereka minta walaupun mereka berjasa besar menghidupi bangsa. Cara berpikir sederhana itulah yang membuat mereka jarang melakukan protes kepada negara walaupun acap mereka mengeluh. Mereka tetap bekerja, menjadi rakyat baik, membayar pajak, melakukan kerja bakti dan melakukan kewajiban sebagai warga negara walaupun seringkali disakiti, diberlakukan tidak adil dan ditutup akses kesejahteraannya.

Begitulah kenapa saya menganggap petani pantas disebut sebagai pahlawan. Kontribusi dan cara berbakti mereka dilandasi ketulusan sehingga tak banyak menuntut.

Maka, pada Anda yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk menghargai perjuangan petani, berilah empati agar mereka tak selalu termarginalisasi dalam ketidakadilan. Merekalah pahlawan sejati, the real heroes, dibanding mereka-mereka yang merasa berjasa sebagai pahlawan tetapi merengek-rengek belas kasihan pada negara.

SELAMAT TAHUN BARU 2009……