Senin 10 Dzulhijjah 1429 H atau 8 Desember 2008, umat Islam merayakan hari Raya Idul Adha atau juga dikenal dengan hari Raya Qurban. Disaat yang sama, para tamu Alloh yang sedang beribadah haji menunaikan wukuf di Arafah. Qurban dalam bahasa Arab berarti “dekat”,  sedangkan arti ibadah qurban adalah menyembelih hewan sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban

Di Peniron, hari raya Qur’ban tahun ini sama tetapi tak semeriah tahun lalu. Di setiap musholla sejak minggu sore telah dikumandangkan takbir. Tetapi hujan yang terus menerus dan sedikitnya hewan qurban sepertinya sedikit mengurangi kemeriahan. Hujan yang tidak turun pada Senin pagi itu tidak mengurangi jalannya sholat Idul Adha karena jama’ah dapat tertampung semua di dalam masjid. Ya, dibanding sholat Idul Fitri, jumlah jama’ah yang mengikuti Sholat Ied Senin kemarin memang tak ada seperempatnya. Disamping karena tak ada perantau yang pulang kampung, sebagian masyarakat memang masih berani bolos untuk sholat Idul Adha.

Disamping jumlah jama’ah sholat Ied, jumlah hewan kurban juga berkurang dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu menurut data dari Pemdes, jumlah hewan Qurban mencapai lebih dari 70 ekor kambing dan 1 ekor sapi. Untuk tahun ini, jumlah kambing Qurban yang dipotong tidak lebih dari 50 ekor dan tidak ada yang berqurban dengan sapi.

Dengan penduduk lebih dari 7000 jiwa yang tersebar di 58 RT, jumlah hewan qurban itu memang terbilang sedikit. Tetapi jika melihat sisi ekonomi tingkat perekonomian masyarakat Peniron, jumlah itu memang sangat realistis menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya.

Tahun ini, hari raya qurban juga dilakukan sedikit berbeda. Hari raya qurban yang jatuh pada hari Senin ternyata bertepatan dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat Peniron yang melarang menyembelih/memotong hewan apapun pada hari Senin. Kenapa tradisi itu mempengaruhi hari raya besar Islam? Itulah Peniron yang masih teguh memegang prinsip toleransi. Walaupun pada sebagian masyarakat, terutama warga Peniron sebelah timur tidak terlalu mempercayai adanya akibat buruk dibalik larangan itu, tetapi mereka tetap melakukan pemotongan hewan demi menghormati saudara-saudaranya.

Karena paham tersebut, maka pemotongan hewan qurban dilakukan pada Senin setelah jam 4 sore karena bagi orang Jawa setelah jam itu sudah dianggap berganti hari berikutnya.


Tradisi melarang memotong hewan pada hari Senin memang tidak dilakukan oleh tetangga-tetangga desa Peniron seperti Watulawang, Kebagoran, Kedungwaru dan Pengaringan. Tetapi ada desa-desa lain di luar Peniron yang mempunyai kepercayaan yang sama seperti Logandu dan Clapar di Kecamatan Karanggayam serta Kalikemong Kecamatan Karangsambung.


Menurut sebuah sumber, konon tradisi ini masih berkaitan dengan sejarah Kebumen dari babad Panjer. Dahulu kala, ketika Kebumen masih terdiri dari berbagai Bupati, terjadi perseteruan antara Bupati Panjer dan bupati Bocor. Demi mengalahkan Bupati Panjer, Bupati Bocor mengirimkan mata-mata dengan cara mengirimkan seorang pembantunya untuk ngawulo (mengabdi) pada Bupati Panjer. Dari mata-mata itu, maka diketahuilah hari naas sebagai kelemahan Bupati Panjer yaitu hari Senin. Maka akhirnya, Bupati Panjer dapat dikalahkan. Para punggawa (pembantu) kabupaten Panjer yang akhirnya lari ke daerah utara. Salah satu punggawa kabupaten Panjer yang melarikan diri dan akhirnya membuka daerah menjadi Peniron adalah Eyang Rohmanudin yang menyamar dengan nama samaran Mbah Kuwu. Beliau kemudian berpesan agar di tanah Peniron pantang untuk meneteskan darah termasuk menyembelih hewan pada hari Senin.


Begitulah cerita yang melatarbelakangi tradisi pantang memotong hewan di hari Senin, sehingga pelaksanaan penyembelihan hewan qurban pun dilaksanakan sore hari. Di desa lain seperti Logandu, Clapar dan Kalikemong, mungkin ceritanya pun sama.


Sebuah tradisi yang menjadi bagian cerita sejarah bisa jadi menimbulkan banyak perdebatan saat ini. Tetapi, ketika tradisi itu bisa kita sikapi dengan bijak, maka muncullah sikap saling menghormati yang akhirnya justru membuat perbedaan itu menjadi indah.


Jika mau berdebat, akan lebih baik mendiskusikan bagaimana formula agar tingkat ekonomi masyarakat Peniron selalu membaik dan tanpa ada yang dikorbankan jumlah hewan qurban setiap tahunnya terus meningkat. Itu saya kira lebih penting.