Membaca Suara Merdeka edisi Sabtu 22 November 2008, saya tertarik dengan berita tentang rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang akan segera menggalakkan Pekan Olah Raga Pedesaan (Pordes).

Program ini selain untuk mendukung program “Bali Ndeso Mbangun Deso” yang menjadi slogan kampanye Pilgub lalu, juga sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi olah raga Jateng yang selalu terpuruk di ajang Pekan Olah Raga Nasional.

Pelaksanaan Pordes menurut rencana akan diadakan di masing-masing kecamatan, sehingga nantinya akan diselenggarakan di 563 kecamatan se Jawa Tengah dan diikuti oleh 8.656 desa. Kecamatan penyelenggara Pordes akan mendapat subsidi dari Pemerintah sebesar Rp. 4 juta.

Selain itu, untuk meningkatkan mutu dan prestasi juga akan disalurkan bantuan ke 700 klub yang ada di Jateng dengan nominal masing-masing Rp. 10 juta. Klub-klub tersebut meliputi klub olah raga prestasi, klub olah raga tradisonal dan olah raga masyarakat.

Untuk mendukung program tersebut, saat ini Pemprov telah menyiapkan dana bantuan sebesar Rp. 15 miliar.

********

Sebagai bagian masyarakat Jateng, kita sangat menyambut gembira rencana Pemprov tersebut. Disamping peningkatan prestasi, program model kompetisi seperti ini akan membuat olah raga masyarakat bergairah. Selain itu juga akan memberi kesempatan yang adil kepada desa-desa seperti Peniron untuk menunjukkan potensi keolahragaannya.

Selama ini khususnya di Kebumen, kompetisi sebagai bagian dari pembinaan olahraga memang sangat terasa kurang. Itulah sebabnya klub-klub olahraga di desa-desa akhirnya mati satu demi satu karena tidak adanya rangsangan kompetisi.

Selain itu, Pordes juga akan memberi ruang bagi desa untuk dapat dilirik potensinya dalam ajang kompetisi yang lebih tinggi. Diakui atau tidak karena sudah menjadi rahasia umum, selama ini pembinaan olah raga praktis hanya terpusat di kota, dikuasai mereka yang mempunyai duit serta mempunyai kedekatan dengan pengurus cabang olah raga sehingga potensi dari desa tak pernah terlirik.

Secara khusus, potensi olah raga di wilayah Kebumen utara cukup baik. Dalam beberapa cabang olah raga yang berkesempatan tampil di level Kabupaten maupun diatasnya, atlet-atlet dari desa Peniron dan sekitarnya mampu meraih prestasi membanggakan. Seperti di cabang atletik dan sepak takraw pelajar yang beberapa kali mengukir prestasi ditingkat provinsi, serta prestasi klub Turangga Sakti yang beberapa kali menjadi juara di tingkat Kabupaten.

Pordes yang semoga bukan program omong kosong akan menjadi ajang pembuktian bagi atlet-atlet kampung. Bahwa selama ini kesalahan pembinaanlah yang membuat potensi mereka tidak mampu berbicara.

***********

Pelaksanaan Pordes, mudah-mudahan akan berujung pada peningkatan prestasi olah raga kita ditingkat nasional bahkan internasional. Mudah-mudahan pula Pordes akan menyadarkan semua pihak untuk mau belajar bersama membuat model pembinaan yang terbaik, profesional dan berkesinambungan demi menciptakan masyarakat yang berkualitas, sportif dan berharga diri dengan berujung pada prestasi yang membanggakan.

Dan mudah-mudahan juga Pordes nantinya akan selalu dimaknai sebagai bagian dari pembinaan, bukan ajang adu gengsi seperti yang dilakukan peserta pada ajang olah raga semodel PON atau Porprov yang cenderung mengabaikan pembinaan dan lebih mencari prestasi instan. Maka evaluasi tentu harus dilakukan agar Pordes dapat berjalan sesuai tujuan mulianya.

Bahkan jika memungkinkan, ada baiknya Pordes diubah menjadi Porsenides dengan menambah unsur seni budaya. Langkah ini akan sangat baik untuk nguri-uri dan menggairahkan seni budaya lokal dan tentu Indonesia sehingga kita tak harus kebakaran jenggot karena klaim budaya kita oleh negara lain.

Kita tunggu realisasi program ini..