tranceHari Sabtu sore, saya ke rumah Kang Suyud dukuh Jetis untuk kondangan sekaligus nonton tanggapan kuda lumping (ebleg dlm bahasa Peniron). Begitu sampe sekitar jam setengah 3 sore, hujan deras langsung turun dari langit. Padahal saat itu, tanggapan lagi rame-ramenya. Maka berubahlah tanah halaman rumah yang digunakan untuk pentas menjadi becek karena genangan air hujan. Beruntung, sebagian halaman ditutup terpal sehingga pemain yang sudah kesurupan itu kadang tidak kehujanan.

Sewaktu saya datang, sudah banyak penonton yang sudah kesurupan dan ikut ngibing. Dalam bahasa Peniron biasa disebut mendem. Satu dua pemain dari paguyuban kuda kepang “Purwo Budoyo” Dusun Bak Peniron ada yang masih belum ditimbul (disembuhkan dari kesurupan untuk berhenti menari -red). Memang dalam pertunjukan kuda kepang atau kuda lumping atau ebleg, dengan pengaruh magis dari sang pawang, penonton dibuat ikut kesurupan dan menari untuk memeriahkan suasana sekaligus memberi kesempatan pada pemain rombongan untuk beristirahat. Dan itulah bagian yang menarik dari pertunjukan ebleg Purwo Budoyo.

Sekitar jam 3 ketika tinggal 2 sampai 3 pemain yang masih ngibing, tiba-tiba terjadi kesurupan massal. Sekitar 7 pemain saling tubruk dan langsung roboh bersama-sama seihingga otomatis kesurupan “indang”. Indang adalah semacam roh atau makhluk halus yang masuk kedalam tubuh orang yang kesurupan dan mempengaruhi pemain sehingga otomatis dapat menari dan mengikuti irama gending ebleg, walaupun orang itu tidak dapat menari pada awalnya.

img_07051Yang membuat saya tertarik sekaligus kaget adalah, 7 orang yang kesurupan tersebut semuanya masih anak-anak usia dibawah 10 tahun! Belum hilang kaget saya, sekitar 10 menit terjadi lagi hal yang sama, anak-anak yang sedang asyik menonton kembali roboh dan otomatis kembali kesurupan. Kali ini dalam jumlah lebih banyak. Ada 11 anak!

Dan ternyata, hal seperti ini sudah menjadi tradisi diseiap pertunjukan ebleg “Purwo Budoyo”.

Maka dalam suasana hujan deras dan tanah becek, menarilah anak-anak itu tanpa sadar. Wajah polos, tubuh kecil yang basah oleh hujan dan keringat, baju dan celana kotor karena lumpur menjadi bagian dari kemeriahan pertunjukkan. Hampir semua penonton terlihat bersemangat dalam dingin hujan, menyaksikan anak-anak dipermainkan indang yang merasukinya menari, makan daun pepaya, minum air kelapa dan berbagai sesajian lain. Mereka harus menggantikan penari-penari ebleg dari rombongan yang dengan santainya beristirahat. Padahal pemain-pemain rombongan itu yang ditanggap dan mendapat bayarannya. Sang sinden/penyanyi pun semakin bersemangat menyanyi dan bersorak.

Terucap jelas dari penyanyi bahwa anak-anak itu memang dibuat kesurupan untuk memeriahkan dan sekaligus untuk membuat generasi penerus ebleg. Pun saat saya menanyakan pada salah satu personil rombongan, jawabannya juga sama, menciptakan generasi muda pecinta ebleg.

Sekitar satu jam anak-anak itu menari, satu persatu dari mereka akhirnya terkapar. Indang-indang itu keluar dengan perantara air kelapa, asap kemenyan dan mantra sang pawang.

Saya cuma menghela napas. Kasihan pada anak-anak itu yang kotor, lelah dan seperti tak percaya apa yang telah terjadi pada dirinya. Kedatangan mereka untuk menikmati pertunjukan justru hilang karena mereka yang menjadi obyek pertunjukan. Anak-anak polos itu harus dieksploitasi atas alasan regenerasi pelaku seni budaya, nafsu kepuasan orang-orang tua mereka dan uang!

Benarkah cara seperti itu dalam membuat regenerasi? Tidakkah sebaiknya anak-anak itu diajari menari dengan lebih manusiawi dengan mempertimbangkan fisik dan psikis anak? Lantas apa yang diperbuat oleh mereka-mereka yang menerima bayaran? Memberi sangu sebagian anak-anak itu, atau membentuk group dan pelatihan untuk mereka, atau mengajari mereka untuk menjadi penari yang baik? Tidak, karena mereka yang menerima bayaranpun belum bisa menari dengan baik dan tidak pernah memperbaikinya.

Sekali lagi, saya cuma kasihan pada anak-anak itu. Dan saya kira, pasti ada diantara penonton yang juga berperasaan sama dengan saya. Benarkah anak boleh di eklpoitasi sedemikian rupa atas nama pelestarian budaya, demi kemeriahan pertunjukan atau sebenarnya hanya menjadi alat kemudahan mendapatkan kepuasan dan uang?

Ataupun seperti pada mantan pacar saya Dik Lutfiana Ulfa yang cantik, yang karena alasan perlindungan anak harus menjadi buah bibir dan bahan ekploitasi oleh wartawan, KOMNAS PA, LSM, dan pihak-pihak yang merasa menjadi pahlawan pelindung anak. Padahal belum tentu bagi Ulfa sendiri.

Tulisan ini adalah pendapat saya, jadi Anda tentu boleh berbeda