Pasar dalam teori ekonomi adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli yang artinya menunjukkan tempat. Maka bangunan pasar diharapkan juga menjadi magnet agar aktifitas jual beli dapat terjadi di tempat itu dan pada akhirnya memberi manfaat ekonomi pada masyarakat.

Peniron mempunyai pasar desa dengan bangunan semi permanen yang berlokasi di perbatasan kadus Krajan dan Klapasawit. Pada era sebelum tahun 1990, pasar Peniron menjadi pusat aktifitas jual beli masyarakat Peniron sekitarnya, seperti Karangreja, Kaligending, Kedungwaru, Watulawang, Pengaringan dan Kebagoran. Pada hari pasaran Kamis dan Senin, aneka barang dagangan ada di Pasar Peniron mulai dari hasil bumi, konveksi, ternak, jamu, kelontong, alat pertanian dan lainnya.

Sebelum tahun 1985an, pasar Peniron merupakan salah satu pasar terbesar di wilayah utara selain pasar Karangsambung dan Karanggayam. Bahkan ketika jembatan bengkek belum dibangun sehingga sebagian pengunjung harus menyeberang sungai, aktivitas pasar walaupun hanya sampai jam 10 pagi cukup ramai. Warga kedungwaru dan Kaligending pun menyeberang sungai untuk pergi ke pasar Peniron.

Keramaian pasar Peniron mulai berkurang setelah desa Kaligending di timur Lukulo membangun pasar semipermanen sendiri sehingga warga Karangreja dan Kedung waru lebih memilih ke Kaligending. Di samping lebih dekat, akses ke sana juga lebih mudah.

Lambat laun, pasar desa kian sepi. Hal ini berdampak pada berkurangnya pendapatan restribusi pasar sehingga pemeliharaan sarana pasar juga terganggu.

Pada sekitar tahun 1990, dilakukan perbaikan los pasar bagian luar. Harapannya adalah mengembalikan animo pelaku pasar agar kembali menggairahkan pasar Peniron. Tetapi seiring perkembangan, lokasi pasar Peniron dianggap terlalu jauh sehingga pengunjung dari sebelah barat lebih memilih melakukan transaksi di pasar Bendungan/Jati. Maka, pasar Peniron yang sudah kehilangan pengunjung dari timur kali Lukulo dan desa Karangreja semakin bertambah sepi.

Upaya relokasi pasar pernah beberapa kali dilakukan, bahkan pernah dilakukan pemindahan pedagang dengan paksa. Tetapi, pasar adalah hukum alam sesuai teori ekonomi. Maka seiring waktu, kembalilah pada pedagang ke pasar Bendungan karena tempatnya yang lebih strategis untuk berjual beli.

Kini bangunan pasar hanya dihuni pedagang konveksi dihari pasaran. Itupun belum tentu ada yang membeli karena sangat sepi. Bangunan pasarpun berubah menjadi bangunan tua dan kumuh karena tanpa perawatan. Pemerintah Desa akhir-akhir ini bahkan seperti tak punya perhatian dalam hal pengelolaan pasar. Padahal sebagai asset desa, pasar yang menempati areal cukup luas itu mempunyai nilai historis dan tetap mempunyai potensi menjadi sumber pendapatan desa.

Awal tahun, dengan dibentuknya Tim Inventarisasi dan Penataan Asset Desa, semoga pasar Peniron dapat kembali ditata. Sekarang, ada 3 lokasi pasar yang cukup ramai yaitu bendungan, pasar Curug dan pasar jembatan bengkek. Jika dipandang menguntungkan, ada wacana lokasi pasar akan dijadikan satu di pertigaan bengkek.

Nasib pasar wetan memang tak menentu. Maka diperlukan komitmen sungguh-sungguh dari pengelola desa melalui Pemerintah Desa untuk mengelola asset desa itu agar tetap memberi manfaat ekonomi pada masyarakat dan desa.

Usulan kami terhadap asset desa tersebut adalah sebagai berikut:

Alternatif 1: Lokasi pasar dapat digunakan menjadi komplek Pemerintahan Desa terpadu yang meliputi kantor desa, sekretariat BPD, gedung pertemuan dan gedung serbaguna, termasuk halaman luas untuk kegiatan-kegiatan desa seperti pentas seni. Pendanaan dilakukan bertahap, misalnya 30% dari APBDes tiap tahun. Apalagi Peniron mendapatkan dana ADD lebih dari 100 juta setiap tahun. DENGAN CATATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DILAKUKAN DENGAN BAIK, TRANSPARAN DAN BERTANGGUNG JAWAB.

Alternatif 2: Jika memungkinkan, dapat dilakukan tukar guling antara tanah pasar dengan tanah dipertigaan jembatan bengkek sehingga dana APBDes dapat mutlak untuk pembangunan pasar dalam waktu yang permanen.

Alternatif 3: Desa membuat pasar baru yang dipadukan dengan terminal dipertigaan jembatan bengkek, kemudian semua aktifitas pasar baik dibendungan maupun jembatan begkek ditutup dan dialihkan di pasar baru tersebut.

Alternatif 4: Lokasi pasar ditukar guling dengan SD Negeri, entah SDN 1, SDN 2 maupun SDN 3 yang semuanya masih menggunakan tanah milik desa. Langkah ini akan berdampak ganda karena fasilitas pendidikan tidak ngumpul di satu Kadus dan bekas gedung SD bisa dijadikan balai desa.

Karena anggaran tukar guling semestinya menggunakan APBD, maka APBDes digunakan untuk membangun pasar di pertigaan bengkek dengan cara kerjasama dengan pemilik tanah, kalau boleh bahkan tanah itu dibeli karena sebenarnya desa mampu.

Alternatif 5: Lokasi pasar dijadikan komplek Pemdes, sedangkan lokasi pasar baru menggunakan tanah desa, persis disebelah barat lapangan sepak bola.

Alternatif 6: mencari alternatif lain langsung kepada masyarakat.

Semua alternatif tadi tentu melalui perencanaan yang benar-benar matang dengan mempertimbangkan segala dampaknya.

Memperbaiki dan membuat sesuatu menjadi lebih baik akan dapat berjalan selama KOMITMEN TIDAK HANYA MENJADI PEMANIS BIBIR, tetapi benar-benar dilaksanakan sebagai bentuk dari cinta kita kepada desa.