Mumpung masih bulan Syawal, saya masih mengambil topik seputar lebaran. Mumpung juga saya masih punya waktu untuk menulis karena akhir-akhir ini waktu untuk nulis sedikit terbatas.

Lebaran memang penuh kenangan, termasuk mengenang tradisi plesiran. Tradisi plesiran atau wisata saat lebaran yang tidak hanya di Peniron tetapi hampir diseluruh Indonesia (mungkin, karena saya kebetulan belum pernah pergi kemana-mana. hehe).
Karena ”kuper”nya saya, maka saya tak mau menulis tradisi plesiran diluar-luar sana. Saya hanya bisa menulis tradisi plesiran yang sepanjang saya tahu, terutama tradisi plesiran lebaran di Peniron dan sekitarnya.

Plesiran lebaran di Kebumen yang sudah mentradisi adalah pergi ke obyek-obyek wisata. Daerah tujuan wisata terutama adalah pantai seperti Petanahan, Bocor, Puring, Rowo, Karangbolong, Suwuk dan Logending. Masing-masing pantai pun punya hari puncak sendiri-sendiri. Seperti Pantai Petanahan yang mencapai di hari ke 7, atau Pantai Rowo pada hari ke 8.

Peniron dulu punya tradisi plesiran lebaran, yaitu berwisata ke puncak pegunungan, yang orang menyebutnya Gunung Condong dan Gunung Pranji. Sampai sekitar tahun 1990an, lebaran menjadi puncak kunjungan wisata domestik ke gunung Condong, desa Condong Campur kecamatan Sruweng. Gunung Condong sebagai obyek wisata diserbu ribuan pengunjung dari berbagai desa, terutama dari kecamatan Karanggayam, Sruweng dan Pejagoan. Dari puncak gunung Condong pengunjung dapat menikmati pemandangan sampai batas cakrawala. Pengunjung juga dapat menelusuri hutan yang masih alami dan jika sedang beruntung dapat melihat kera-kera liar. Di samping itu, ada panggung hiburan yang biasanya menampilkan live musik dangdut. Di puncak Condong juga ada sebuah makam yang sangat dikeramatkan, tetapi saya tak tahu siapa tokoh yang dimakamkan di situ.

Selepas obyek gunung Condong meredup karena pohon-pohon pinus ditebang oleh Perhutani pada sekitar tahun 1997an, wisata gunung beralih ke gunung Pranji yang ada di desa Pengaringan, kec. Pejagoan. Sama seperti gunung Condong, puncak Pranji menyajikan pemandangan eksotik dari puncaknya. Bahkan disamping hari lebaran, pada setiap malam minggu dan hari minggu puncak Pranji banyak dikunjungi wisatawan, terutama dari Kebumen termasuk anak-anak muda pecinta alam amatiran. Pada tanggal 17 Agustus 2008 kemarin, pecinta alam SMA 1 Kebumen (GASPALA) bahkan membentangkan bendera didinding tebing dengan pemanjatan yang sangat beresiko tinggi.

Secara perlahan sejak 3 tahunan terakhir, plesiran ke gunung mulai kurang di minati. Puncak Pranji tak lagi ramai pengunjung. Tradisi plesiran lebaran tidak ada lagi. Padahal mereka tidak mengalihkan tradisi lebaran ke obyek wisata lain, seperti orang-orang desa Jemur yang mempunyai tradisi plesiran ke pantai misalnya. Orang-orang Peniron lebih memilih berkumpul di rumah. Irit, tetapi tidak sehat.

Begitulah, tradisi plesiran lebaran. Sebagian orang seperti saya punya banyak kenangan ketika dulu setiap hari jalan kaki naik gunung ramai-ramai. Entah tradisi yang menyimpan banyak kenangan itu akan muncul lagi atau tidak, waktu yang akan menjawabnya. Yang menjadi pemikiran, bisakah tradisi plesiran itu hidup lagi? Ataukah mungkin dicari alternatif wisata baru di sekitar kita agar tradisi plesiran tidak hilang? Bagaimanapun, ada manfaat positif jika kita mampu mengangkat potensi lokal. Disamping mengenalkan daerah, juga memberi manfaat ekonomi pada masyarakat. Tentu jika kita mampu mengelolanya dengan baik.

Sekedar pemikiran, perpaduan puncak Pranji dan check dam Pengaringan mungkin layak untuk dikelola menjadi magnet wisata lokal baru. Saya akan coba ulas pada posting berikutnya setelah Anda memberi masukan pada kami.