Petani tembakau, termasuk salah satu pihak yang diuntungkan saat ini. Pasalnya fatwa haram untuk rokok yang kemarin diwacanakan banyak pihak ternyata belum jadi dikeluarkan MUI. Bahkan walaupun tidak mewakili institusi MUI, salah seorang anggota MUI bahkan menyatakan tidak akan mengeluarkan fatwa haram.
Sebelumnya, wacana pengharaman rokok memang sempat membuat petani cemas karena jelas akan berdampak pada turunnya harga jual tembakau mereka. Demikian juga dengan Peniron sebagai salah satu desa yang mempunyai lahan kebun tembakau cukup luas di Kebumen utara. Secara pasti, luas lahan kebun tembakau tahun ini tidak diketahui, tetapi diperkirakan lebih dari 20 hektar.

Di Peniron, sentra tembakau ada diwilayah barat (Dusun Bulugantung dan Perkutukan). Wilayah lain walaupun ada tetapi lahan tanamnya tidak terlalu luas.
Saat ini, hampir seluruh tanaman tembakau sudah dipetik (di rampas dalam istilah Peniron). Baik yang dipetik petani sendiri maupun dipetik oleh juragan karena dibeli dilahan. Tahun ini, petani tembakau sangat terkendala pada sulitnya air yang digunakan untuk penyiraman. Bahkan karena kendala itu, sebagian petani terpaksa menjual/memanen tembakaunya sebelum masa panen.

Berkebun tembakau menjadi pilihan petani karena tembakau lebih menghasilkan keuntungan yang lumayan dibanding menanam tanaman lain disaat kemarau. Dalam waktu 4 bulan, tanaman seluas 200 ubin konon dapat menghasilkan 4-5 juta jika dibeli langsung tengkulak dilahan. Jika diolah sendiri, keuntungannya tentu akan makin tinggi.
Saat ini, harga per kilo basah dihargai sampai Rp. 12ribu dan tembakau kering per ikat (eler dalam istilah Peniron) dihargai sampai 25ribu.

Di Peniron karena banyaknya petani tembakau juga banyak bermunculan juragan tembakau, yang sebenarnya bertindak sebagai tengkulak. Yang unik bin lucu, mereka tidak membayar cash kepada petani. Harga 2 juta yang disepakati bahkan bisa baru lunas setelah 3-4 tahun karena pembayarannya dicicil semau juragan. Kondisi ini terjadi, disamping faktor modal, wawasan petani juga sangat terbatas karena tidak pernah ada penyuluhan dari PPL dan tak adanya paguyuban petani yang lebih memungkinkan membuat naik posisi tawar dengan tengkulak.

Pengolahan tembakau dilakukan dengan cara tradisional. Tembakau yang dipanen dibawa pulang dengan keranjang dari anyaman daun kelapa (bedodot dlm istilah Peniron), di tempat pengolahan, daun tembakau dirajang dengan pisau rajang khusus (gobed), kemudian hasil rajangan tersebut ditata tipis dalam anyaman bambu (rigen) untuk dijemur. Setelah melalui proses pembalikan, tembakau kering dikemas untuk disimpan atau dipasarkan. 1 ikat (eler) saat ini dihargai sekitar 25ribu.

Pengolahan di tempat juragan tembakau dapat melibatkan puluhan orang. Bahkan di Tempat Pengolahan Tembakau (TPT) Bapak Mustareja, dusun Perkutukan bisa mempekerjakan hingga 40-50 orang. Biasanya pekerja dibagi dalam 3 bagian, yaitu laki-laki dibagian perajangan dan penjemuran serta perempuan dibagian pengeleran. Upah untuk bagian perajangan dan penjemuran berkisar 10ribu sampai 15ribu, sedangkan perempuan dibagian pengeleran berkisar 7ribu sampai 10ribu. Upah pekerja memang cukup murah karena waktu kerjanya pun tidak sampai 5jam sehari, kecuali bagian penjemuran yang standby dari pagi sampai sore hari.

Pemasaran tembakau Peniron, disamping daerah Kebumen, Petanahan dan Gombong juga sampai Cilacap.

Berkebun tembakau memang menjanjikan keuntungan yang lebih baik, tetapi bermacam kendala belum mampu dihindari petani. Keterbatasan modal, faktor alam, organisasi dan akses pemasaran menjadi problem yang terus terulang dan tak mampu diurai setiap musim. Semoga ke depan ada perhatian dari pihak terkait maupun simpatisan lain untuk mengangkat petani dari ketidakberdayaan.