Sungguh malang nasib rakyat miskin di negeri ini. Nyawa mereka ternyata dihargai lebih murah dari seamplop uang tak lebih dari 30 ribu rupiah! Kemiskinan membuat mereka rela menyabung nyawa demi berebut rejeki senilai itu dari sang saudagar.
Tragedi pembagian zakat di Pasuruan yang menewaskan 21 orang dan mencederai puluhan orang, membuat kita tercengang. Betapa murahnya rakyat miskin menghargai dan dihargai nyawanya. Bahkan pada bulan puasa sekalipun.

Yang menyesakkan juga, masalah pada pembagian zakat bukan pertama kali ini terjadi. Sepertinya, masyarakat kita memang malas untuk belajar dan menganggap remeh persoalan, apalagi menyangkut rakyat miskin.

Begitulah ketika niat baik tidak dilakukan dengan cara yang baik maka lahirlah petaka. Dibeberapa tempat, berzakat yang tujuannya untuk membagi nikmat, sebagai wujud syukur pada Alloh Ta’ala dan membersihkan harta, dilakukan dengan membagi langsung bak memberi makan pada ayam-ayam piaraan. Karena tidak dilakukan dengan metode yang baik, maka terjadilah tragedi.

Kasus Pasuruan semoga mampu membuka mata hati kita, bahwa berzakat, infaq, shodaqoh, berderma, atau apapun namanya semestinya dilakukan dengan cara yang baik dan manusiawi. Bukankah agama sudah mengatur dengan jelas, bagaimana tata cara zakat termasuk siapa yang berhak menerima zakat?

Pada pembagian yang dilakukan langsung oleh sang juragan, apakah itu sebagai bentuk ketidakpercayaan pada lembaga amil? Ataukah karena ada pemikiran pongah, riya dan kesombongan sebagai kaum berlebih harta? Lantas apakah pembagian zakat seperti itu akan tepat sasaran pada yang berhak sebagaimana sudah ditentukan dalam agama?

Bencana adalah sebuah pelajaran (bagi mereka yang mau belajar), maka ketika tragedi pembagian zakat sudah memakan puluhan korban, mudah-mudahan itu pelajaran bagi kita semua. Pemerintah, Lembaga Amil, tokoh agama, dan kita semua mesti instrospeksi agar pelaksanaan penyaluran zakat benar-benar sesuai ketentuan syariat.

Jika pemerintah dan politisi bisa membuka mata dan hati akan realita bahwa rakyat semakin miskin, mudah-mudahan mereka akan berhenti memperkaya diri dengan uang rakyat. Dan kemiskinan yang menjadi sebab terpenting pada kasus ini semoga tidak hanya menjadi iklan-iklan dan komoditas politik belaka.

Akhirnya pada kasus lain, janganlah lagi kita belajar dan memperbaiki diri saat setelah timbul korban. Mudah-mudahan…