Setelah ditunggu sekian lama akhirnya dana kompensasi untuk rakyat miskin dibagikan juga. Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang oleh Kades Triyono Adi diplesetkan menjadi Bantuan Langsung Telas dibagikan langsung dengan lancar di Balai Desa Peniron, Senin 21 Juli 2008. Bantuan yang diterima per Kepala Keluarga penerima BLT adalah 300 ribu rupiah untuk 3 bulan. Rencananya, penerima BLT akan menerima dana selama 8 bulan, tidak 12 bulan seperti BLT sebelumnya.

Tulisan ini akhirnya menjadi terlambat tayang, tetapi saya pikir tak terlalu menjadi soal karena berita mengenai BLT sebenarnya bukan berita yang menarik. Mengangkat berita mengenai BLT sebenarnya sama dengan mengangkat aib atas lemahnya kondisi ekonomi masyarakat desa kita.

Dari sebanyak 1451 Kepala Keluarga di Peniron, tercatat 751 KK tercatat sebagai penerima BLT. Jumlah ini sekaligus menjadi rekor sebagai desa dengan jumlah penerima BLT terbanyak se kecamatan Pejagoan. Bahkan, jika survey mengenai rumah tangga miskin dilakukan dengan benar, mungkin jumlah penerima BLT akan meningkat lagi. Kenyataannya masih muncul banyak ketidakpuasan terkait dengan tidak tercatatnya keluarga yang merasa miskin dalam daftar penerima BLT tadi.
Ya, karena BLT rakyat justru lebih senang menjadi miskin atau dimiskinkan. Hebat bukan?

Sekarang semua terpulang pada kita, akankah rekor ini akan menjadi sebuah kebanggaan atau aib. Kebanggaan karena kemiskinan ternyata bisa dijual dan membuat banyak uang masuk Peniron, yang itu berarti akan memacu perputaran uang dan geliat ekonomi. Sebagian dana itu berdasarkan kesepakatan bahkan bisa digunakan untuk memperbaiki insfrastruktur dan menambah kas lingkungan. Ataukah aib bagi kita sehingga menyadarkan kita untuk berbenah? Ataukah kedua-duanya menjadi pilihan agar menjadi keuntungan ganda?

Mengenai BLT dan banyaknya warga miskin di Peniron, saya yakin Anda mempunyai opini, persepsi dan solusi sendiri. Kalau saya berpendapat, BLT yang mengacaukan akal sehat rakyat, harus bisa dmanfaatkan secara cerdas demi kepentingan bersama. Jelasnya, saya berpendapat bahwa rekor tadi harus dipertahankan bahkan harus ditingkatkan sehingga semua menjadi miskin. Kemudian dana tadi kita kelola bersama-sama untuk meningkatkan sarana peningkatan sosial ekonomi. Kalaupun dikelola sendiri, dana 100.000 x 8 bulan sangat susah untuk dibagi ditengah melambungnya harga-harga sekarang.

Daripada jadi makanan empuk koruptor, bukankah lebih baik “dikorupsi” demi kepentingan rakyat kecil bersama-sama? Kalaupun ada resiko, ya ditanggung bersama.

Menurut Anda bagaimana?