“Pak bs donor ora, bth wg 2 nggo bpke Suyuti”.. begitu tulisan sms yang aku terima dari temen saya Memed, siang Rabu kemarin. Sms-nya tidak langsung aku balas, tetapi sms itu langsung aku teruskan ke nomor, adikku. Maksud saya, karena butuh 2 orang, maka tak ada salahnya jika adikku saya cadangkan jika pada pemeriksaan nantinya darahku tak cukup sehat untuk diambil. Aku memang punya tekanan darah yang lumayan tinggi, sehingga pernah 2 kali gagal donor karena tekanan darahku di atas 160/90.

Sms ke adikku langsung direspon dengan jawaban “Bisa, kapan? Aku lagi mulang” Maka, aku jadi sedikit tenang. Belum sempat aku balas sms dari Memed, datang kang Suyuti bersama Kang Slamet ke kantorku, dan aku tentu sudah bisa menduga, maksud kedatangan mereka yang tiba-tiba itu dan memang benar. Akhirnya aku menyanggupinya untuk langsung ke UTD PMI Kebumen sekitar 2 jam lagi.

Karena banyaknya pekerjaan yang harus saya selesaikan, maka saya baru ke UTD PMI sekitar jam 17.00 WIB dan disusul adikku seperempat jam kemudian. Dan benar seperti yang kukuatirkan, petugas Unit Transfusi Darah PMI tidak berani mengambil darahku saat itu karena tensi darahku yang cukup tinggi. Akhirnya, aku disarankan datang lagi besok hari dengan syarat harus istirahat dan tidur cukup. Jadilah saat itu hanya darah adikku yang diambil, dan hal seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya.

Akhirnya lagi, baru tadi sore saya kembali ke UTD PMI dan sukses diambil darahnya walaupun tensi darahku masih lumayan tinggi, 140/90. Petugas sempat menyatakan apakah saya berani, dan saya katakan dengan mantap, saya berani. Saya yakin, selama fisik saya terasa siap dan pemeriksaan darah juga baik, tak ada yang perlu ditakutkan. Dan nyatanya, malam ini saya masih beraktifitas seperti biasa, lembur dan bisa nyambi bikin postingan ini.

*****

Cerita nyata di atas bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri bahwa saya seorang yang dermawan. Toh darah itu kan saya juga tidak beli Kang.

Pengalaman ini saya angkat, karena keprihatinan saya pada masih sedikitnya orang Peniron yang masih mau dengan senang hati berdonor darah. ..kalau desa lain saya tidak tahu.. Kenapa saya berani mengatakan kalau orang Peniron masih sedikit yang mau berdonor? Karena pengalaman beberapa kali saya diminta untuk donor karena alasan yang sama yaitu Susah mencari orang yang mau donor!

Ada beberapa sebab kenapa susah mencari pendonor darah. Beberapa teman punya alasan yang berbeda seperti: takut jarum suntik/sakit, takut tidak kuat, takut darah yang baik habis, dan hanya sedikit yang beralasan takut tertular penyakit menular, HIV/AIDS misalnya. Sayangnya, penyebab ketakutan mereka berdonor selalu mereka pelihara, bahkan dikembangbiakkan, sehingga jadilah fenomena susah mencari pendonor setiap kali ada tetangga yang membutuhkan selalu terjadi.

Bagi teman-teman yang anti donor, rasa takut adalah hal yang manusiawi, tetapi berbuat demi hal yang manusiawi harusnya mampu menghilangkan rasa takut itu. Saya yakin, alasan dan argumentasi teman-teman anti donor didapat dari mereka yang belum pernah berdonor. Jadi mengapa harus percaya? Bukankah ada fakta yang bisa dilihat, bahwa kami dan teman-teman yang terbiasa donor juga sama sehatnya? Bahkan mungkin justru lebih sehat?

Jujur saja, dari kecil saya belum pernah sekalipun disuntik karena sakit ataupun imunisasi, jadi saya termasuk orang yang takut jarum suntik. Tetapi pada saat donor darah, nyatanya saya tidak berteriak kesakitan dan begitupun pendonor yang lain, saya juga tidak pusing atau pingsan walaupun saya diambil darahnya saat tensi darah saya lumayan tinggi. Saya dan darah saya juga sehat dan normal-normal saja selama ini, bahkan berat badan saya selalu bertambah kan? Jadi, kenapa teman-teman harus takut?

Kenapa harus takut untuk sedikit berkorban demi saudara-saudara kita yang membutuhkan? Toh kita tak berkorban apa2 kecuali mungkin sedikit waktu. Bayangkan jika tak ada stok darah karena kita yang sehat “pelit” untuk menyumbangkan darah kita. Bayangkan jika saat itu Anda yang membutuhkan dan akhirnya mati karena tak ada darah.

Maka, sebagai manusia kewajiban kita adalah saling menolong selama kita mampu, tanpa memandang untuk siapa, apa, kapan, di mana,dan bagaimana.

Sesekali, cobalah Anda datang ke UTD PMI. Lihat dan perhatikan betapa banyak orang berharap bantuan dari darah kita. Wajah-wajah cemas mereka karena stok darah yang selalu terbatas sehingga PMI mewajibkan untuk mengganti dengan pendonor lain demi terjaganya stok darah. Dan dengan cara itu, mereka jadi tidak harus keluar uang untuk membeli darah; Haruskah kita yang sehat tetap tak mempunyai empati?

Dari sumber terpercaya yang saya baca, memang tidak ada manfaat langsung menjadi donor darah. Namun dengan mendonorkan darah secara rutin setiap tiga bulan sekali, maka tubuh akan terpacu untuk memproduksi sel-sel darah baru, sedangkan fungsi sel-sel darah merah yang berfungsi untuk oksigenisasi dan mengangkut sari-sari makanan. Dengan demikian fungsi darah menjadi lebih baik sehingga donor menjadi SEHAT. Selain itu, kesehatan pendonor akan selalu terpantau karena setiap kali donor dilakukan pemeriksaan kesehatan sederhana dan pemeriksaan uji saring darah terhadap infeksi yang dapat ditularkan lewat darah.

Bahkan dari kebanyakan sumber lain lain bahkan tegas menyatakan bahwa rutin berdonor akan menyehatkan tubuh karena bergantinya sel-sel darah yang lebih baik. Dan berbagai kesaksian menyatakan bahwa tubuh terasa lebih baik setelah berdonor.

Menutup tulisan ini, saya mengajak Anda mau menjadi provokator yang baik untuk mengkampanyekan budaya tidak takut berdonor darah. Jika termasuk golongan penakut itu, mari berubah; cukuplah dengan satu alasan: DEMI KEMANUSIAAN..