Dokumentasi dari peringatan Isro Mi’roj 1429 H desa Peniron berikut menggambarkan, betapa antusiasnya masyarakat Peniron mendukung PHBI. Jikapun bagi Anda mungkin biasa, minimal itu luar biasa menurut kami.

Luar biasa karena ditengah himpitan kesulitan akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, ditengah banyaknya kebutuhan untuk sekolah anak-anaknya, ditengah ramainya musim kondangan, ditengah wabah kecemburuan sosial akibat dampak BLT, dan ditengah kegagalan panen akibat musim kering, masyarakat tetap teguh menjunjung budaya “ndesa”nya.

Di samping seni janeng, yang dulu sempat membawa Peniron menjadi begitu dikenal di Kebumen, hal unik lain adalah kehadiran “besek” (dus wadah katering nasi kalau dikota, tetapi ini terbuat dari bambu) serta oleh-oleh untuk para hadirin.

Besek merupakan oleh-oleh/bingkisan tamu umum, sedangkan tamu kelas “bisnis” berupa dus bekas mie instan yang berisi (berdasarkan yang saya dapat beserta 100 tamu lain): nasi beserta lauk komplit, telor bebek 5 biji, gula dan teh, sprite kaleng, roti cokelat 1 pak dan segepok buah. Untuk tamu “eksekutif” konon lebih “wah” lagi, apalagi untuk tamu “VIP”.

Mudah2an “budaya” baru ini tidak lantas berkembang lebih “parah” sehingga beban masyarakat menjadi bertambah lagi bahkan mengalahkan biaya untuk pendidikan dan hidup sehari-hari.