Tulisan khas dari: Muhsinun di Jepang dengan sedikiiiit editing oleh Admin

Hari ini dan sekarang juga, cobalah anda masukan kata PENIRON atau DESA PENIRON ke dalam kotak ajaibnya mbah gugel. Pejamkan mata lalu hentakkan kaki kanan anda ke bumi sebanyak tiga kali maka dalam sekejap mata akan tampil berbagai macam informasi tentang desa terpencil di bawah kaki gunung Brujul (http://www.penironku.co.cc). ruar biasa bukan? he.he..

Keadaannya tentu akan lain apabila anda melakukannya 2-3 tahun yang lalu, karena kita akan kesulitan untuk memperoleh informasi ini. Kalaupun ada itu hanyalah sekilas inpo dari potongan berita-berita yang ada di media online.

Dan yang lebih membanggakan lagi, untuk desa Peniron dan desa-desa sekitarnya kini juga telah memiliki “kontrakan” di jagat maya ini. (http://www.komunitas-benkek.co.cc)


Walaupun statusnya masih numpang yang berarti sewaktu-waktu bisa di “usir” oleh pemiliknya, namun bagaimanapun ini merupakan sebuah prestasi yang patut di banggakan. pokoke sip golesipp..

Dengan adanya “kontrakan” ini maka banyak informasi tentang kampung kita yang bisa kita dapatkan dengan secepat mungkin. Ini tentu sangat berarti bagi kita terutama yang berada di rantau yang setiap saat merindukan kehangatan kampung halaman yang tak bisa kita dapatkan dari tempat lain.

Dan dari sini juga bisa menemukan kembali “anak-anak hilang” (minjem basane pak suhar) yang terpisah jarak dan waktu di seluruh belahan dada eh, dunia maksude..

Di samping itu “kontrakan” ini juga merupakan langkah maju warga Peniron dan sekitarnya untuk menyongsong masa depan yang serba online jarene jaman siki nek ora online ora gawul he.he..

Sekali lagi ini sebuah prestasi yang patut kita apresiasi, kita dukung dan kita jaga bersama agar “kontrakan” ini terus bisa kita tempati dan tetap “hidup”. Karena bagaimanapun memelihara sebuah website utawa blog seperti ini membutuhkan ketekunan, kesabaran, kemampuan, biaya, waktu dan sebagainya yang tentunya akan terlalu berat apabila hanya di tanggung oleh satu dua orang, dan karena ini merupakan milik kita bersama.

Dan kita juga harus yakin suatu saat nanti kita akan punya “rumah” sendiri yang lebih layak sehingga desa kita benar-benar “mlebu” internet. tulin iya mbok?