Secara tak sengaja, kami “menemukan” tempat ini saat pemakaman Mbah kami tercinta Atmapawira hari Senin 23 Juni kemarin.
Disela acara pemakaman di TPU Bulugantung, teman kami mengambil gambar sebuah makam. Sebuah makam khas, tetapi bentuknya memang sangat berbeda dari makam-makam sekelilingnya, terutama dari ukuran dan modelnya. Material makam berbahan kayu jati dengan lantai menggunakan batu yang tertata rapi dan berdinding keliling kayu jati.

Sebagian orang, terutama di Peniron dan orang-orang yang gemar melakukan ritus spiritual memang mengistimewakan makam tua ini karena merupakan makam salah satu tokoh Peniron jaman dulu.

Kami memang belum mendapatkan narasumber yang tahu persis sejarah mengenai Mbah Watupecah, tetapi beliau memang merupakan salah satu sesepuh dan ksatria desa.

Karena hal di atas, makam ini menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang. Setiap warga Dusun Bulugantung dan Perkutukan yang nyekar/ziarah/resik ke makam leluhur, wajib hukumnya untuk ziarah dulu ke makam ini. Maka tak mengherankan jika sisa pembakaran kemenyan yang dibakar peziarah beronggok tinggi.

Dulu pada saat SDSB masih ada, makam ini selalu ramai oleh para pecandu judi untuk berharap mendapat semacam “wangsit”. Sekarangpun, tempat ini masih menjadi tujuan ziarah bagi sebagian orang dengan berbagai tujuan.

Jika Anda menyukai petualangan mistis, peziarah atau ingin sekedar uji nyali, Anda boleh datang ke makam yang “horor” ini. Tentu dengan segala resiko yang harus berani Anda tanggung sendiri.