Sebelum tahun 2006, Peniron menjadi daerah blankspot, baik untuk sinyal komunikasi selular maupun media tv. Memang tidak semua daerah mengalami kendala komunikasi itu. Untuk daerah Peniron yang berada sedikit lebih di atas, sinyal hp dan tv bisa mereka nikmati, tetapi untuk daerah lembah atau yang berada di bawah, sinyal hp dan tv merupakan barang langka. Saat itu, untuk dapat menggunakan hp kami harus naik ke tempat yang lebih tinggi atau ke tempat yang lapang untuk mendapatkan sinyal nyasar. Sedangkan untuk mendapatkan sinyal tv, kami harus memasang antena setinggi mungkin dan itupun belum tentu bisa. Bagi yang punya duit, memasang antena parabola jadi pilihan demi untuk dapat menonton tv. Bahkan dulu, demi menonton sepak bola yang bebas acak, terpaksa kami harus numpang nonton sampai desa Watulawang, yang karena berada di daerah yang lebih tinggi, sinyal tv dapat ditangkap dengan sangat baik.
Sebelum tahun 2006, sinyal telepon memang sudah dapat dinikmati dengan layanan telkom fleksi, itupun dengan kami harus memasang antena tinggi-tinggi atau menggunakan jasa wartel.
Sejak 3 tahunan yang lalu, mimpi untuk berkomunikasi dengan sinyal telepon seluler telah menjadi kenyataan. Minimal ada 3 operator layanan selular yang dapat dinikmati dengan baik karena adanya tower BTS dari ketiga operator di timur desa. Seperti bangun dari mimpi panjang, kini hp hampir dipunyai di setiap rumah, bahkan konon di SMPN2 Pejagoan lebih dari tiga perempat siswanya membawa hp ke sekolah.

Seiring maraknya penggunaan hp di Peniron, kini banyak bermunculan tempat penjualan hp, pulsa dan asesoris hp. Kami yang melakukan penelusuran pada minggu lalu, mencatat ada 7 konter seluler baik yang menjual hp dan asesoriesnya maupun hanya melayani pengisian pulsa. Di satu sisi, masuknya layanan dari operator selular memang sangat membantu masyarakat dalam kemudahan berkomunikasi, tetapi penggunaan hp yang begitu marak jika tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadai juga akan menciptakan efek negatif. Disamping munculnya pola hidup konsumtif, efek yang sangat merisaukan adalah rendahnya kontrol orang tua terhadap penggunaan hp oleh anak-anak untuk hal-hal yang menyimpang, misalnya pornografi.

Ketika sinyal hp sekarang sudah masuk desa, yang 4 tahun lalu dianggap tidak mungkin masuk Peniron yang dikelilingi gunung-gunung, lantas kapan sinyal tv akan gampang diakses di Peniron dan desa sekitarnya? Terutama desa-desa yang bukan di daerah tinggi?

Persoalan sinyal tv yang buruk memang menjadi problem di daerah utara Kebumen. Di desa-desa di Kecamatan Pejagoan sebelah utara, Kec. Karanggayam dan kec.Karangsambung, sinyal tv bisa dinikmati dengan mudah bagi mereka yang hidup didataran tinggi. Bagi yang hidup dibawah, untuk menikmati sinyal tv yang baik warga terpaksa harus memasang antena parabola.
Persoalan ini pernah ditangkap menjadi peluang usaha oleh warga Kaligending, salah satu desa di kecamatan Karangsambung di timur Peniron, dengan membuat stasiun relay sederhana dan dipancarkan ke desa-desa sekitar termasuk Peniron. Namun nampaknya besarnya biaya operasional menjadi kendala hingga akhirnya gulung tikar.

Tampaknya, untuk menikmati gambar tv yang baik masyarakat di daerah utara tetap bisa berharap. Tak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin, seperti halnya terwujudnya mimpi mendapatkan sinyal telpon seluler seperti sekarang. Semoga…

Ada yang punya pendapat?

Ana sing ngomong : “ngonoh lah, aku wis urip nang kota be..!”
Lurah Yono : “KURANG AJAR RIKA YA!”
Ana sing komentar maning :“salahe urip nang ndesa Lur!” Ha..ha..