Tanggal 20 Mei tahun ini tepat 100 tahun Boedi Oetomo didirikan, yang akhirnya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional. seperti lazimnya, hari nasional selalu diperingati dengan banyak acara yang kadang lebih sebagai seremoni belaka. Yang menjadi lagu wajib pasti pasang spanduk dengan slogan yang dari dulu ya itu-itu saja, kemudian upacara, pidato, resepsi dll. Habis itu ya selesai, kembali semula dan menunggu untuk upacara berikutnya. Besoknya ya begitu lagi. Tidak ada inovasi. Seperti tahun ini, katanya di Jakarta akan digelar peringatan khusus dengan dana khusus yang konon dijanjikan akan menyuguhkan atraksi-atraksi kolosal.
Peniron, karena letaknya yang jauh dari pejabat dan politikus, jauh dari pusat perputaran duit, mungkin tak lebih dari 20% yang ingat kalau Indonesia ini sudah bangkit 100 tahun yang lalu. Bahkan kalau beritahupun kayaknya banyak yang tak peduli karena bagi mereka urusan upacara, pidato, slogan, resepsi bukanlah budaya mereka.
Mereka pasti lebih berpikir bagaimana bisa membeli pupuk yang sudah mahal tapi masih langka pula, bagaimana bisa bertahan hidup dalam situasi yang serba susah dan mahal tetapi konon harga BBM malah akan dinaikkan.

Bahkan kalau orang ndesa dikasih tau kalau mereka yang di kota mengadakan ”pesta” dengan acara yang gemerlap karena memperingati kebangkitan Indonesia yang sudah 100 tahun, masyarakat Peniron bisa makin tidak “mudeng”.
Lha apanya yang bangkit? Lha kalo sudah 100 tahun tetapi situasinya masih saja susah, untuk apa diperingati dengan pesta pora? Bahkan katanya orang-orang kaya yang konvoi dengan motor gede, yang menggelar konvoi sehingga -menghabiskan BBM dikala rakyat dianjurkan untuk menghemat BBM dan menurunnya daya beli karena BBM- juga dalam rangka memperingati kebangkitan Indonesia? Lha daripada BBM diabrul-abrul, kan lebih baik disumbangkan pada kami untuk beli pupuk?

Ah pejabat dan orang-orang gede yang diatas memang tak pernah memahami kami. Apa mereka ndak malu karena 100 tahun yang mereka peringati itu ternyata negara kita tidak semakin baik? Dimana korupsi telah membangkrutkan negeri, hutan dibabat, dan penuhnya negara ini oleh janji dan kata palsu, penuh orang-orang munafik. Lantas mau dikemanakan cita-cita Boedi Oetomo untuk membuat prieboemi ini maju, kemana cita-cita kemerdekaan yang mewujudkan Indonesia yang berkeadilan sosial?

Sejak reformasi, yang katanya dalam rangka perubahan ke arah yang lebih baik, nyatanya sekarang negeri ini malah dikuasai oleh politisi-politisi yang menyebalkan, bahkan memuakkan! Yang hanya manis saat kampanye, tetapi setelah itu hanya sibuk menjadi makelar dan tikus kapitalis.

Partai yang menjamur, yang katanya sebagai salah satu indikator sukses demokratisasi, yang katanya untuk agen pendidikan politik, mendorong civil society, masyarakat madani, ternyata partai hanya berorientasi pada kekuasaan. Bahkan partai seperti menjadi benalu bagi 100 tahun kebangkitan negeri ini.

Haruskah bangsa ini butuh suplemen semacam IREX agar bisa bangkit? Wow.. Suplemen itu bukankah sudah lama kita lakukan dengan melakukan kebijakan untuk negara ini maju secara instan? Akibatnya, bukankah ternyata pondasi ekonomi, sosial, politik dan mentalitas kita begitu bobroknya sehingga kita terjerembab dalam krisis yang tak kunjung usai?

Alangkah indahnya, seandainya 1 abad kebangkitan nasional ini kita jadikan momentum untuk benar-benar bangkit dan bukan dengan slogan dan bualan. Momen untuk melakukan refleksi dan otokritik setelah sekian lamanya bangsa ini tak kuasa bangkit.
Cara yang efektif adalah kemauan pejabat publik melakukan revolusi sosial dengan tobat massal dan menunjukkan tingkah laku untuk cermin keteladanan.
Kongkritnya, mulailah dari pejabat beralih naik angkutan umum untuk mengatasi kemacetan, mulailah dari pejabat menggunakan sepeda untuk menghemat BBM, mulailah dari pejabat menjadi contoh perlawanan terhadap korupsi, mulailah pejabat berperilaku disiplin dll.

Kalau pejabat publik berani memberi keteladanan untuk melakukan revolusi perilaku, maka rakyat pasti akan melakukan hal yang sama.
Ayo, jangan bangun bangsa ini dengan seremonial, slogan, jargon dan omong kosong. Mulailah dengan keteladanan dan langkah nyata untuk kebangkitan bangsa ini.