Bagi orang Peniron dan sekitarnya atau orang asing yang pernah berkunjung ke Peniron, mungkin tak asing lagi dengan gambar di samping. Sekilas, gambar itu mirip sebuah komplek perumahan sangat sederhana. Bahkan bagi yang baru melihatnya, banyak yang mengira itu adalah sebuah bangunan perumahan atau pasar. Memang tak salah bagi yang menyebut perumahan karena itu memang bangunan perumahan.

Bukan bangunan perumahan bagi kami yang masih bisa nge-blog, yang bisa cari duit di Jakarta, Bandung, Malang bahkan merantau di Jepang atau yang jadi Ketua LKMD di desa tetapi nyari duit di kota. Tetapi bangunan-bangunan kecil berderet-deret itu adalah sebuah komplek perumahan masa depan alias komplek makam.
Sebagaimana disebutkan pada artikel terdahulu, Peniron terdiri berbagai budaya, dan salah satu bentuk kekayaan budaya Peniron adalah banyaknya komplek makam dengan gaya perumahan seperti itu. Model komplek makam seperti ini, memang tidak hanya di jumpai di Peniron, tetapi juga banyak terdapat di desa-desa sekitarnya terutama desa-desa di sebelah barat antara lain di Watulawang, Kajoran dan Karanggayam.

Lokasi makam yang masih memakai model bangunan seperti itu, kebanyakan berada di daerah/pedusunan yang masih banyak menganut budaya kejawen, dimana sebagian masyarakatnya masih taat meneruskan tradisi nenek moyangnya. Walaupun begitu, bukan berarti di daerah itu masyarakatnya tidak beragama, tetapi masyarakatnya walaupun 100% sebagai pemeluk agama Islam belum bisa melepaskan diri dari ikatan budaya pendahulunya.

Bangunan makam atau yang di desa Peniron dikenal sebagai cungkup itu hampir menyerupai pos ronda, baik dari ukuran maupun model bangunannya. Satu bangunan cungkup rata-rata berukuran 4 x 2,5 meter, dengan tinggi tiang tak ada yang lebih dari 1,5 meter dan biasanya digunakan untuk 1 keluarga atau 2-3 nisan/kijing. Kebanyakan terbuat dari kayu pilihan sehingga bisa bertahan bertahun tahun. Sekarang dengan susahnya mendapatkan kayu yang baik, keluarga pemilik makam sudah menggantikan kayu dengan bangunan dari bata dan semen.

Sebagian dari cungkup itu, ada yang bisa membuat bulu kuduk kita merinding, terutama bagi anda yang bukan orang Peniron asli dan baru pertama kali melihat langsung dari dekat. Yang anda yang bukan penakut tentu anda adalah pengecualian. Jika kita melongok ke dalam makam, yang sebagian berdinding sehingga gelap, ada begitu banyak bekas pembakaran kemenyan. Begitu lamanya, sehingga kemenyan yang dibakar itu bisa menumpuk lebih dari setengah meter!

Kemenyan-kemenyan itu memang merupakan salah satu bagian dari tradisi di daerah kami. Kebanyakan yang melakukan adalah mereka yang sudah berumur di atas 50 tahun. Untuk generasi di bawah itu, disamping malas, tidak bisa, juga karena kebanyakan sudah terpengaruh dengan budaya islam yang tidak melazimkan membakar kemenyan di makam. Pada bulan-bulan jawa tertentu seperti Suro, Mulud dan Besar, makam-makam itu sering dikunjung, para ahli waris dari penghuni perumahan untuk memanjatkan doa sambil menaburkan bunga, membersihkan kuburan dan membakar kemenyan. Di samping, tradisi mengunjungi makam sambil membakar kemenyan juga dilakukan kala ahli waris akan melangsungkan upacara pernikahan, khitan, tujuh bulan kehamilan dan lain-lain. Tradisi seperti itu di Peniron di sebut “resik” atau “nyekar”.

Di samping model makam seperti itu, di Peniron terdapat model makam lain yang seperti kebanyakan maupun makam leluhur yang berarsitektur berbeda. Ya, model makam di Peniron memang menjadi ciri sebagai desa yang punya budaya beragam. Di samping itu, menjadi salah satu simbol kerukunan karena tidak pernah ada masalah dengan banyaknya model makam walaupun berdampingan satu sama lainnya.

Tetapi disamping keunikannya, model makam “cungkup” juga menjadi masalah sendiri di saat lahan kuburan sudah begitu sempit, sementara masih saja ada orang yang mati. Karena sudah sangat rapatnya bangunan, hingga berdempet dempet, saat ada penghuni baru masuk komplek, betapa susahnya orang yang mengantar. Bahkan sampai keranda itu dibawa sambil merunduk, jongkok bahkan sampai dioper-operan seperti kerja bakti memindah batu bata. Disamping itu, dengan sempitnya lahan, sisa tanah yang sebenarnya bisa digunakan untuk kuburan, menjadi tak bisa digunakan karena dititik itu berdiri tiang rumah.

Masalah seperti itu memang harus dipecahkan, karena kalau makam umum tidak dibenahi dan diatur, apa kami masih bisa dapat kapling besok? Padahal sebelum saya mati, akan banyak orang dan teman-teman kami yang mendahuluinya. …Takut ndak dapat kapling kali.. he..he..

Tetapi tak berarti model makam itu perlu dieliminasi, tetapi mungkin perlu aturan dan penataan biar tidak seenaknya bikin bangunan dan kapling yang merusak landsekap dan tata makam. Apalagi, karena keunikannya, model makam berpotensi jadi obyek wisata, contohnya saat SDSB dan judi Kuda Liar masih marak, maka marak pula komplek perumahan masa depan itu..

Siapa yang tertarik untuk berwisata ke kuburan? Atau malah mau beli kapling???
Datang saja ke Peniron..