Keributan antar desa masih kerap terjadi. Pemicunya hampir selalu adalah emosi dari teman-teman pemuda yang sering tak terkendali. Seringkali, masalah yang sangat sepelepun bisa menyebabkan mereka bersitegang, yang jika tak puas/tidak berani sendiri akhirnya mereka mengajak teman-temannya. Dan dengan alasan solidaritas, mungkin juga menunjukkan nasionalisme ndesonya, membela tanah air, jadilah masalah sepele berubah menjadi ketegangan antar desa.
Setelah beberapa waktu yang lalu dilakukan ikrar damai dengan pemuda desa Kebakalan, hari Senin kemarin menyusul penandatanganan MOU nota kesepakatan damai dg desa Tanjungsari kec. Petanahan.
Pemicu masalahpun sangat sederhana. Konon, awalnya hanya masalah yang terjadi sesama teman di sekolah Madrasah Tsanawiyah di desa Jemur. Masalah merekapun sebenarnya sudah didamaikan oleh pihak sekolah, hingga akhirnya muncul pahlawan kesiangan bernama Nono dari dukuh Silampeng Peniron.
Dia yang kemudian menjadi provokator sehingga mengobarkan api yang sebenarnya hampir padam. Bersama beberapa temannya, dia menemui murid dari Petanahan dan memintanya untuk memberikan uang sejumlah 200 ribu sebagai syarat damai mengatasnamakan desa Peniron.
Dari perlakuan Nono dkk yang konon dia seorang jagoan dan pesilat, jadilah konflik pribadi berubah konflik antar desa karena muncul bumbu primordialisme lokal.
Dari berbagai sumber yang bisa dipercaya diperoleh informasi bahwa saat malam Senin sejumlah pemuda dengan puluhan sepeda motor dan 3 buah truk dari desa Tanjungsari Petanahan telah berangkat untuk menyerbu Peniron.
Dilanjutkan besok krn ini cm pake hp. Nuwun