Istilah Penironesia, dan tambahan frase pada judul artikel ini bukanlah sebagai simbol separatisme. Memiripkan dengan Indonesia, kami maksud hanya agar lebih unik dan menarik, yang kemudian ada harapan dari kami, dengan ketertarikannya, akan timbul nasionalisme yang yang lebih besar dari seluruh warga Peniron di jagat raya ini terhadap Penironesia. He..he..
Sebenarnya, jauh sebelum saya pake untuk judul posting ini, Penironesia sudah kami proklamirkan sebagai nama room pada forum chatting untuk sesama teman-teman Peniron.
Jadi Babinsa, Intelkam, BIN dll tak perlu kuatir akan gerakan separatis baru. Ah..apalah arti sebuah nama kan Pak BIN?

Desa Peniron sebagai wilayah administratif sudah ada sejak jaman pemerintah kolonial Belanda. Kala itu konon wilayahnya mencakup sampai Watulawang dan Pengaringan, yang sekarang menjadi desa tetangga. Jadi sangat mungkin jika kelak secara riil tim ahli sejarah Penironesia sudah dapat membuktikan tanggal berdirinya desa Peniron, maka Penironesia akan jauh lebih tua dari Kabupaten Kebumen.
Hayo wong Bumen, apa ndak malu kalau nanti umur Kebumen lebih muda dari Penironesia? Apa ndak sebaiknya ditinjau kembali hari jadi Kebumen itu??

Mengenai sejarah terbentuknya Peniron silahkan tunggu postingan kami bulan depan karena tim sejarah Penironesia belum selesai mendokumentasikan hasil penelitiannya.

Bagi saya yang lahir, besar dan mungkin matipun di Peniron, saya tahu bagaimana Peniron amat potensial untuk menjadi desa maju. Peniron yang luasnya lebih dari 980 hektar, jumlah penduduk yang besar, punya sawah yang luas sebagai penyangga pangan, punya hutan yang tidak semua desa punya, punya dataran rendah luas sebagai daerah penataan kawasan terpadu, punya pegunungan yang menyajikan suasana damai dan tanahnya yang menghasilkan beragam tanaman agrobisnis, punya lembah Luk Ulo tempat tambang pasir, jarak yang sedikit jauh dari kota dengan dikelilingi desa-desa yang lebih kecil dan merupakan jalan simpul/persimpangan menuju 2 kecamatan, bahkan salah satunya adalah jalur menuju kabupaten Banjarnegara dan banyak potensi lain.

Tetapi, potensi yang menjadikan Peniron ditetapkan pemerintah sebagai salah satu Kawasan Pengembangan Desa Terpadu sepertinya masih sebagai program kosong pemerintah. Toh pada kenyataannya, jalan kabupaten yang melewati desa Peniron yang sudah puluhan tahun rusakpun, tidak pernah diperbaiki.

Ketika jalan kabupaten tersebut diaspal hotmix tahun 90an, sampai sekarang belum pernah sekalipun diaspal lagi. Dan ketika sejak tahun 2006 ada proyek peningkatan jalan berjudul : Peningkatan Jalan Tembana – Peniron sampai 3 tahap dengan dana milyaran rupiah, realisasi peningkatan jalan itu sampai saat tidak sampai di desa kami. Entahlah..

Karena keterbatasan, terutama Sumber Daya Manusia, potensi Penironesia memang belum dimanfaatkan untuk menjadikan Penironesia berkembang sepesat yang diharapkan.
Toh bukan berarti Penironesia tidak berupaya maju. Keterbatasan yang dipunyai justru menjadikan sebagian rakyat Penironesia berjuang mengekpresikan dirinya untuk eksis. Minimal, sebagai desa terluas di kawasan utara, Penironesia tetaplah desa terbesar, terdepan dan selalu sebagai leader desa-desa sekitar.

Itulah Penironesia tanah tumpah darah kami. Desa yang telah membesarkan dan bahkan mengantar saudara-saudara kami rakyat Penironesia menjadi sukseswan di perantauan dalam maupun luar negeri, sukses duduk dikursi empuk birokrasi, sukses menjadi pengusaha dan lain sebagainya.

Ditengah geliat menuju desa mandiri, yang diharapkan kelak tak melulu bergantung pada pemerintah, potensi-potensi di atas tentu harus digali dan dimaksimalkan. Dan karena keterbatasannya, rakyat Penironesia tak mampu memikulnya sendiri. Keterbatasan ilmu, jam terbang, tenaga dan materi membuat Penironesia butuh suntikan investasi ilmu, spirit dan materi dari luar.

Maka, Saudara-saudara kami yang telah menjadi sukseswan adalah harapan rakyat Peniron untuk membantu mengatasi keterbatasan itu.

Semoga dengan semangat kebersamaan, Penironesia kelak akan menjadi desa yang membanggakan dan membahagiakan rakyatnya. Amiin…

SALAM MERDEKA…